Litbang Pemasaran

1.Kajian Perhitungan HPP Log Jati dan Sengon (Biaya Direksi)

A.Latar Belakang

Perhutani merupakan Badan Usaha Milik Negara yang diberi tugas dan wewenang untuk menyelenggarakan kegiatan pengelolaan hutan berdasarkan prinsip perusahaan dalam wilayah kerjanya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sifat usaha dari Perhutani adalah menyediakan pelayanan bagi kemanfaatan umum dan sekaligus memupuk keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan Perusahaan dan kelestarian sumber daya hutan (PP RI No. 30 Tahun 2003). Dari dasar ini bisa diartikan bahwa setiap usaha yang dilakukan Perhutani berorientasi untuk mendapatkan keuntungan (profit). Salah satunya pengusahaan kayu bundar jati yang masih menjadi usaha andalan dalam memperoleh pendapatan perusahaan. Selain jenis jati, produksi kayu bundar rimba jenis sengon juga mempunyai andil dalam produksi kayu bundar di Perum Perhutani yaitu sebesar 10, 49% (Laporan tahunan Perum Perhutani, 2012). Dalam penetapan harga kayu bundar, baik jenis jati maupun rimba, Perum Perhutani menggunakan istilah HJD (Harga Jual Dasar). Penetapan HJD kayu bundar selama ini diduga masih dihitung berdasarkan mekanisme pasar (market value) sehingga belum bisa menunjukkan laporan laba rugi yang sebenarnya, hanya saldo positif/negatif dari kegiatan operasional pada tahun berjalan. Menurut Andayani (1998), Perum Perhutani dalam menjual kayu jati sebenarnya masih disubsidi oleh alam sehingga berdampak pada pendapatan Perhutani yang sebenarnya masih dapat ditingkatkan 260% sampai dengan 298% dari pendapatan yang diperolehnya saat ini. Besarnya biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk memproduksi per meter kubik kayu bulat baik jati maupun rimba sebenarnya belum diketahui secara pasti sehingga tidak bisa bila harga jual kayu berdasarkan pada harga pasar saja tetapi sudah harus memperhitungkan biaya produksi yang dikeluarkan dari kegiatan pengelolaan awal hingga pemasaran kayu. Harga Pokok Produksi (HPP) merupakan total biaya yang dibentuk dari beberapa elemen biaya untuk memproduksi suatu produk mulai dari awal sampai dengan penjualan/pemasaran. Biaya produk melekat pada unit produk pada saat barang diproduksi dan biaya tersebut tetap melekat pada barang yang kemudian menjadi persedian yang menunggu untuk dijual (Garrison dan Norren, 2010).Profit bisa diperoleh ketika harga jual realisasi (market value) lebih besar dari harga pokok produksi (cost value). Sehingga untuk mengetahui keuntungan yang diperoleh Perhutani dari pengusahaan kayu bundar baik jati maupun rimba, maka harus diketahui biaya produksi atau harga pokok produksi (HPP) kayu bundar itu terlebih dahulu. HPP merupakan posisi titik impas dimana keuntungan yang diperoleh Perhutani adalah nol (0) karena realisasi harga jual sama dengan HPP. Seperti yang dijelaskan oleh Duerr, 1974; Haynes, 1977 dan Hyde, 1980 dalam Andayani (1998) bahwa strategi penetapan harga termasuk penetapan harga kayu bundar cenderung ditujukan untuk membantu produsen dalam rangka mengkaji tingkat rasionalisasi harga, ditinjau dari aspek kelestarian pengelolaan terhadap nilai sumber daya hutan. Berdasarkan hal di atas, untuk dapat menetapkan harga kayu bundar (log) disarankan hendaknya pengelola selalu berpedoman dari nilai tegakannya.

 

B. Tujuan

        Kajian ini bertujuan untuk mengetahui nilai harga pokok produksi (HPP) log jati dan sengon melalui pendekatan produksi kayu Log persatuan volume hasil yaitu Rp/m3.

 

 

2.Persepsi Konsumen Terhadap Kayu JPP

A. Latar Belakang

Jati Plus Perhutani atau sering disebut dengan JPP merupakan materi jati unggul produk Puslitbang Perhutani Cepu. JPP dihasilkan melalui proses pemuliaan pohon yang dimulai sejak tahun 1976 yaitu melakukan seleksi pohon plus jati, dilanjutkan dengan pembangunan KBK, kebun pangkas, pertanaman uji keturunan serta uji klon. 

Di Perhutani, JPP sudah ditanam dalam skala yang luas. Sampai dengan tahun 2011, luas tanaman JPP adalah 188.463 ha. Luas ini akan semakin bertambah seiring dengan kebijakan manajemen untuk menggunakan materi unggul JPP sebagai materi tanaman rutin. Pada beberapa lokasi, tanaman JPP sudah ditebang untuk penjarangan, maupun uji coba tebang habis untuk melihat produktivitas kayu per hektar dan kualitas kayunya serta melihat respon dan minat pasar terhadap kayu JPP. Uji coba tebang habis tegakan JPP dilakukan pada tahun 2013 di petak 61a, BKPH Kedunggalar dan Petak 45c, BKPH Getas KPH Ngawi pada tahun 2014. Realisasi produksi tebangan petak 61a, KPH Ngawi, tahun 2013 sebesar 291,493 m3 atau 148 % dari rencana sebesar 197,000 m3, dengan komposisi sortimen AI sebesar 91 % (Anonim, 2014).

Pemasaran merupakan salah satu ujung tombak keberhasilan suatu usaha. Produksi tinggi namun tidak laku di pasaran akan menjadikan usaha yang dilakukan sia-sia. Banyak faktor yang menyebabkan kegagalan suatu produk di pasaran sekalipun produk tersebut dikategorikan berkualitas. Suatu produk baru dapat dikatakan gagal apabila tidak memenuhi harapan atau tidak sesuai dengan keinginan konsumen, sehingga keberadaannya di pasar tidak dapat atau kurang diperhitungkan. Selain itu kesalahan dalam menentukan segmen pasar, target pasar serta posisi pasar juga berperan serta dalam kegagalan produk baru tersebut (Rizky, 2013).

Tanaman JPP sebagai produk baru yang sudah dikembangkan dalam bentuk penanaman secara luas di Perum Perhutani harus diketahui posisi produk kayu yang dihasilkan menurut persepsi konsumen. Dengan keunggulan cepat tumbuh kemudian diikuti dengan pemeliharaan penjarangan dan uji coba tebang habis tanaman JPP umur 10 – 12 tahun maka bisa dilakukan penjajakan terhadap kayu yang dihasilkan.  Hal ini penting karena pengetahuan tentang posisi produk bisa digunakan dalam merancang strategi pemasaran yang efektif  untuk produk kayu JPP yang hasilnya masih dalam ukuran sortimen AI dan AII.

Diharapkan dengan adanya kajian ini maka diperoleh informasi mengenai hal-hal apa saja yang diharapkan dan tidak diharapkan dari produk kayu JPP, serta apa yang diinginkan konsumen dari kayu JPP yang dipasarkan. Persepsi konsumen terhadap kayu JPP ini akan dibagi ke dalam 3 kriteria yaitu produk kayu JPP, harga dan pemanfaatan kayu JPP Persepsi dan pandangan konsumen terhadap kayu JPP diharapkan dapat memberi masukan bagi pihak manajemen dalam strategi pemasaran kayu JPP ke depan baik dalam penentuan strategi harga,  segmentasi pasar, target pasar dan posisi pasar  kayu JPP yang tepat.

 

B. Tujuan

Mengetahui persepsi konsumen terhadap kayu JPP dan pemanfaatannya

 

 

 

3.Kajian Persepsi Konsumen Terhadap Perubahan Sistem Pemasaran di Perhutani 

A. Latar Belakang

Pemasaran kayu di Perum Perhutani sampai saat ini masih dilakukan dengan model konvensional yaitu dengan cara pedagang kayu mendatangi TPK secara langsung dan memilih kapling yang diinginkan kemudian melakukan pembayaran. Dalam perkembangannya sistem penjualan juga mengalami beberapa modifikasi antara lain dengan adanya sistem kontrak dan juga sistem lelang tegakan.  Sistem penjualan saat ini diperkirakan masih memungkinkan adanya celah kekurangan baik dari aspek manajemen Perum Perhutani maupun dari aspek konsumen itu sendiri. Untuk perbaikan sistem pemasaran maka Perum Perhutani telah mencoba dan mengkaji sistem penjualan secara online. Sistem ini akan mengurangi interaksi antara konsumen dengan petugas sehingga diharapkan akan diperoleh efisiensi yang dapat menguntungkan perusahaan maupun pembeli kayu itu sendiri.

Dari aspek konsumen, perubahan suatu sistem akan mengakibatkan perubahan pola kerja dari perusahaan mereka sendiri. Akan ada suatu tahap penyesuaian oleh konsumen terhadap pemberlakuan sistem ini apabila dilaksanakan secara menyeluruh di Perum Perhutani. Sistem online merupakan salah satu aspek dalam rencana dan aksi dari evaluasi yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).  Mustoha Iskandar menyebutkan bahwa sistem online bertujuan untuk mengurangi inefisiensi pada sistem penjualan konvensional sebagaimana yang dilaksanakan saat ini. Pada tahun 2014 sistem penjualan online baru dilaksanakan di Jawa Barat dan Banten san tercapai sekitar 30% dari seluruh persediaan kayunya (Duta Rimba, 2014).

Persepsi konsumen terhadap suatu kegiatan manajemen dapat dikuantifikasi dengan nilai indeks kepuasan. Kepuasan pelanggan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (hasil) yang dirasakan dengan harapannya. Jadi, tingkat kepuasan adalah fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan (Kotler dalam Tjiptono, 1996 dalam Mutiara, 2010).

 

B. Tujuan

Kajian Finansial Pola Agroforestry Pada Tegakan Jati, Pinus, Sengon dan Kayu Putihta kekurangan

 

 

4.Kajian Finansial Pola Agroforestry Pada Tegakan Jati, Pinus, Sengon dan Kayu Putih

  1. Latar Belakang

Produktivitas lahan hutan diperkirakan semakin menurun mengingat berbagai faktor baik yang sifatnya fisik seperti erosi maupun kehilangan hara karena pemanenan. Penanaman dengan satu jenis tanaman yang sama terkadang dapat memberikan hasil yang maksimal namun terkadang juga belum maksimal.  Kombinasi antara tanaman kehutanan dan tanaman pertanian yang cocok dalam pola agroforestry diharapkan mampu meningkatkan ekonomis luasan lahan. Pada tegakan jati pada saat ini memiliki berbagai variasi tanaman pencampur yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Sebagai contoh penanaman porang, penanaman empon-empon, dan tanaman lain telah dicoba dilakukan dibawah tegakan Jati oleh Perum Perhutani dan sistem tanam campur kopi dibawah tegakan Pinus merkusii. Pada tanaman sengon telah dilakukan sistem tanaman campur antara nanas dan sengon.

Masing-masing lahan memiliki tingkat kemampuan yang berbeda-beda dalam pencapaian hasil (yield). Tidak semua jenis tanaman juga cocok untuk dilakukan pencampuran mengingat antar jenis akan memiliki interaksi yang komplek dengan kondisi lahan. Interaksi tersebut dapat saja saling menguntungkan atau saling merugikan. Manfaat lain dari sistem tanam tumpangsari dan agroforestry adalah dapat meminimalkan resiko kegagalan panen pada suatu komoditas tanaman. Manfaat secara ekologis adalah dapat membantu untuk pengendalian gulma, pemanfaatan energi matahari yang maksimal serta mengurangi tingkat erosi.

Kesulitan menghitung nilai ekonomi pada sistem agroforestry disebabkan beberapa hal seperti jumlah jenis tanamannya, jangka waktu pengelolaan serta hasil yang diambil. Pada tegakan Jati, sistem agroforestry hanya dapat dilaksanakan selama 2 tahun pertama dan setelah itu tidak dilaksanakan lagi. Pada sistem ini nilai produktivitas pada komoditas tegakan  juga akan dihitung sampai umur tersebut. Namun pada sistem agroforestry terbaru dengan tanaman porang, dan empon empon akan memungkinkan sistem agroforestry dibawah tegakan jati dilaksanakan selama daur. Berbeda sistem dengan tanaman Pinus merkusii, pada  sistem ini terdapat perbedaan jenis tanaman yang dapat ditumpangsarikan. Pada awal pertanaman jenis palawija akan mendominasi sistem agroforestry, namun pada tegakan yang sudah tertutup tajuknya pada sebagian wilayah selanjutnya dilakukan tumpangsari dengan tanaman kopi.

Produktivitas jika hanya ditinjau dari hasil (yield) suatu tanaman semata, terkadang tidak mesti akan menghasilkan keuntungan secara finansial. Analisis biaya termasuk persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan dan perlindungan akan mempengaruhi tingkat keuntungan yang diperoleh, sehingga penghitungan analisis komponen biaya sangat diperlukan. Pendekatan sederhana untuk mengetahui nilai ekonomi dari berbagai  sistem pertanaman yang telah dilakukan di Perum Perhutani tersebut sangat diperlukan analisis biayanya agar dari beberapa sistem yang ada dan telah dijalankan di beberapa wilayah diketahui keuntungan atau kerugiannya.

 

B. Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung nilai ekonomi yang dapat dihasilkan dari suatu sistem pertanaman agroforestry yang telah dilaksanakan oleh Perum Perhutani di berbagai wilayah baik dari tanaman pokok (kayu) maupun tanaman tumpangsarinya.

 

 

 

5.Uji Coba Mekanisasi Alat Angkut di Tempat Pengumpulan Kayu (TPK) dengan Forklift

A. Latar Belakang

A. Latar Belakang

Tempat Pengumpulan Kayu (TPK) merupakan tempat untuk mengumpulkan dan menimbun kayu dari petak tebangan maupun tempat pengumpulan kayu untuk selanjutnya dilakukan kegiatan pemasaran. TPK berfungsi sebagai terminal akhir bagi kegiatan pemanenan kayu dan sekaligus berfungsi sebagai awal berfungsi sebagai awal perjalanan kayu bagi industri pengolahan perkayuan dan pemasaran kayu. Karena pentingnya fungsi TPK maka selayaknya kegiatan-kegiatan yang ada di dalamnya harus dijalankan secara efektif dan efisien untuk menghasilkan keuntungan yang maksimum.

Setiap proses kegiatan di TPK saling berkaitan satu dengan yang lain, sehingga manajemen dan koordinasi tiap elemen pekerjaan harus berjalan dengan baik. Kegiatan yang dilaksanakan di TPK adalah :

  1. Penerimaan kayu

  2. Pengaplingan

  3. Penjualan/pemasaran

Penerimaan kayu merupakan kegiatan pembongkaran kayu angkutan dari hutan  yang kemudian disesuaikan antara jumlah batang yang diangkut dari hutan dengan yang diterima di TPK. Pengaplingan adalah kegiatan mengumpulkan kayu dalam satu tumpukan sesuai dengan jenis, ukuran diameter, panjang dan kualitas kayu. Tujuan pengaplingan ini adalah untuk memudahkan pengangkutan bagi pembeli, pensortiran mutu kayu dan memisahkan kayu perkelas mutu. Penumpukan/kapling diusahakan kapling murni artinya satu sortimen, satu kelas panjang, satu kelas diameter, dan satu kelas mutu.

       Proses pengaplingan selama ini dilakukan dengan tenaga manusia yaitu dengan cara dipikul untuk ditempatkan di setiap kapling yang sudah ditentukan. Kelemahan dari tenaga manusia atau pengaplingan secara manual ini adalah produktivitas yang masih rendah. Selain itu permasalahan sosial yang timbul akibat kurangnya tenaga kerja usia produktif juga menjadi permasalahan tersendiri yang harus dipecahkan setiap tahun. Proses pengaplingan di TPK terdiri dari kegiatan mengangkut dan menata kayu pada tempat yang sudah ditentukan oleh mandor kapling. Inovasi alat mekanis untuk pengaplingan ini bisa menggunakan alat forklift dengan kapasitas 3 ton. Diharapkan, mekanisasi alat dengan forklift ini dapat mengisi permasalahan kekurangan tenaga kerja, meningkatkan produktivitas dan kualitas produksi.

       Alat pengaplingan kayu secara mekanis ini perlu diujicobakan di TPK untuk mengetahui produktivitas alat dibandingkan dengan tenaga manual, sehingga dapat memberikan manfaat bagi perusahaan dalam kegiatan pemasaran kayu.

 

B. Tujuan

  1. Mengetahui  prestasi kerja alat kapling mekanis dengan forklift untuk kegiatan pengaplingan di TPK

  2. Mengetahui  prestasi kerja alat pengaplingan kayu dengan tenaga manual

  3. Mengetahui efisiensi dan efektifitas waktu serta  biaya  mekanisasi dengan forklift dibandingkan dengan manual.

 

 

 

6.Kajian Prestasi Kerja Tebangan Jati di Perum Perhutani

A. Latar Belakang

Perum Perhutani sebagai BUMN Kehutanan yang mengelola sumber daya hutan  hutan di wilayah Jawa dan Madura mempunyai tujuan yang mencakup 3 hal utama yaitu Planet, People dan Profit. Sifat usaha yang dilakukan Perum Perhutani yaitu menyediakan pelayanan  bagi kemanfaatan umum dan menghasilkan keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan dan kelestarian sumber daya hutan. Dalam usahanya mewujudkan tujuan yaitu menghasilkan keuntungan (profit) sampai dengan saat ini Perum Perhutani masih fokus dalam core bisnisnya yaitu kayu, terutama kayu jati. Kegiatan penanaman dan tebangan pada kelas perusahaan jati terus dilakukan setiap tahun dengan berdasarkan prinsip kelestarian hutan.

Prinsip kegiatan pemanenan hasil hutan yang berupa kayu, yaitu tebangan adalah suatu rangkaian kegiatan untuk mengubah tegakan pohon menjadi log sehingga pohon tersebut mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi. Untuk dapat menghasilkan kayu yang optimal baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya, kegiatan pemanenan kayu harus mengikuti tahapan-tahapan dan petunjuk teknis pelaksanaan di lapangan mulai dari perencanaan (RTT), persiapan, penerimaan (pembikinan) dan pengangkutan. Komponen kegiatan persiapan terdiri dari teresan, pembagian blok, klem, persiapan tebangan (sarana prasarana) dan biaya eksploitasi lainnya. Komponen biaya pembikinan meliputi pembersihan sekitar pohon, penebangan, bucking dan sarad, sedangkan biaya pengangkutan terdiri dari pemuatan dan pengangkutan.

 Permasalahan dalam kegiatan tebangan jati adalah standar prestasi kerja tebangan yang belum menggambarkan kondisi riil di lapangan. Dengan belum ditetapkan standar prestasi kerja tebangan ini maka berakibat kepada biaya produksi dan produktivitas dari kegiatan tebangan itu sendiri. Prestasi kerja tebangan ini juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jenis tebangan jati (tebangan A, B, dan E) dan topografi lapangan. Selain faktor diatas faktor tenaga kerja berupa ketrampilan penebang juga turut berpengaruh. Untuk mengetahui waktu standar yang diperlukan dalam proses penebangan perlu dilakukan penghitungan dan penetapan waktu standar yang nantinya akan dijadikan sebagai dasar penetapan prestasi kerja pada tebangan jati di Perum Perhutani. 

 

B. Tujuan

Untuk mengetahui waktu standar dan prestasi kerja tebangan jati di Perum Perhutani