LITBANG JATI

 

1.Pembangunan Tanaman Uji Klon Asal Materi Genetik Full-Sib

A. Latar Belakang

Strategi pemuliaan pohon dalam usaha mendapatkan materi genetik unggul antara lain melalui uji klon. Uji klon dilakukan dengan menggunakan perbanyakan secara vegetatif dengan meteri berasal dari indukan unggul.

Pertanaman uji keturunan yang dibangun pada bulan Desember 2006 sampai Januari 2007 pada tiga (3) lokasi yang berbeda di wilayah Perum Perhutani Divre I, Divre II dan Divre III telah dilakukan pengamatan dan evaluasi.

Hasil evaluasi pada umur 5 tahun menunjukkan bahwa pada tiga (3) lokasi pertanaman uji , terdapat beberapa kandidat unggul. Keunggulannya antara lain bahwa tersebut memiliki karakter pertumbuhan diameter dan tinggi yang prospektif. tersebut apabila dibandingkan dengan standar pertumbuhan perhutanan klon JPP menunjukkan karakter pertumbuhan yang lebih baik.

Dari hasil evaluasi pertanaman uji belum pernah dilakukan uji klon, sehingga perlu segera dilakukan uji klon untuk mengetahui dan mengevaluasi keunggulan seedlot-seedlot tersebut dari hasil perbanyakan vegetatif.

Dengan dibangunnya pertanaman uji klon ini, diharapkan dapat menghasilkan klon-klon unggul baru yang potensialuntuk dikembangkan dalam skala produksi, sehingga kebutuhan kayu jati yang terus meningkat dapat terpenuhi dan dapat menunjang pendapatanbagi perusahaan.

 

B. Tujuan

 

 

2.Pembangunan Tanaman Konservasi Jati & Bank Klon

A. Latar Belakang

Dalam perkembangan program pemuliaan pohon jati di Puslitbang Perhutani sampai dengan saat ini telah memasuki tahap uji matari asal jati. Pada uji keturunan jati umur 5 tahun yang dilakukan evaluasi mendapatkan seedlot dengan pertumbuhan yang prospektif karena bisa disejajarkan dengan standar pertumbuuhan JPP. Seedlot hasil evaluasi pada uji keturunan telah juga di bangun uji klon nya pada tahun 2013. Sehingga untuk menghindari hilangnya materi asal yang memiliki pertumbuhan prospekti dari pihak luar maka perlu segera dibangun kebun konservasinya.

Dari berbagai tanaman uji jati yang telah dibangun mulai 1997 sampai dengan 2006 dari materi 524 pohon plus, masih terdapat materi – materi jati plus yang belumdiuji.

Keberadaan dari Pohon Plus Jati dilapangan banyak yang dilaporkan mati dan keberadaannya sulit untuk dipertahankan sehingga materinya perlu dikonservasi.

 

B. Tujuan

Membangun pertanaman kebun konservasi asal materi jati dan Bank Klon.

 

 

3.Pembangunan Perhutanan Klon Jati Unggul

A. Latar Belakang

Jati merupakan salah satu jenis komoditi perdagangan yang mendatangkan devisa bagi negara. Hingga saat ini permintaan akan kayu jati dari tahun ke tahun selalu meningkat, mengingat jati memiliki daur pemanenan yang panjang (60 s/d 80 tahun), maka perlu penerapan/aplikasi dengan menggunakan materi klon unggul sebagai produk dari pengembangan hasil penelitian pemuliaan pohon jati.

Faktor genetik yaitu penggunakan benih unggul hasil pemuliaan, benih unggul dapat diperoleh melalui pembiakan generatif dan pembiakan vegetatif yaitu kultur jaringan dan stek pucuk. Faktor lingkungan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan pohon yaitu perbaikan tapak seperti penggebrusan, pendangiran, pemupukan. Sedangkan proteksi yaitu upaya mencegah dan meminimalkan gangguan (kebakaran, gulma, hama penyakit dan lain lain). Pengembangan hasil pemuliaan pohon jati diprioritaskan untuk meningkatkan/  memperbaiki kualitas tegakan antara lain ; cepat tumbuh (riap tinggi dan keliling), seragam, lurus, dan bebas hama penyakit.

Pembangunan perhutanan klon melaui silvikultur instensif (penggunaan bibit unggul, pengolahan tanah, pemupukan pemeliharaan, penjarangan dan perlindungan) mempunyai peranan yang sangat penting dalam pengembangan jenis JPP. Tanaman jati (Kelas Umur /KU) di dalam KP jati ditargetkan mencapai kurang lebih 600.000 ha, dari luas tersebut 200.000 ha asal jenis perhutanan klon dari stek pucuk (kebun pangkas) JPP, 200.000 ha JPP asal benih KBK dan sisanya dari Areal Produksi Benih (APB).

 

B. Maksud dan Tujuan

Membangun tegakan klon unggul sebagai upaya meningkatkan produktivitas hutan, sehingga diperoleh tegakan tinggal dengan riap yang tinggi.

 

 

4.Evaluasi Tanaman Uji (Uji Klon dan Uji Keturunan)

A.Latar  Belakang

Jati merupakan komoditi utama yang diusahakan Perum Perhutani sehingga program pemuliaan jati sudah dilakukan sejak lama dengan pemilihan pohon plus, pembangunan uji provenan, uji keturunan, uji klon, bank klon, KBK ( Kebun Benih Klonal) dan KBS (Kebun Benih Semai).

Kebun Percobaan (Tanaman Uji) adalah suatu areal hutan dengan luasan tertentu yang dikelola (perencanaan, penanaman, pemeliharaan dan evaluasi) secara khusus, dengan maksud untuk kegiatan penelitian dan pengembangan dalam rangka membuat kesimpulan program pemuliaan

Secara umum, Kebun Percobaan / Tanaman Uji Jati yang dilakukan pemeliharaan dan evaluasi oleh Tim Peneliti Pemuliaan Pohon Konvensional Jati di Perum Perhutani dapat dikelompokkan menjadi 2 ( dua), yaitu :

Tanaman Uji  Jati yang ada sekarang ini telah dilakukan evaluasi tahun 2007-2008 secara menyeluruh, yang ditinjau dari aspek kelayakan, desain dan pertimbangan kepentingan strategis lainnya. Dari hasil evaluasi tersebut telah diperoleh data mengenai kondisi dan keadaan tanaman uji yang masih dapat dipertahankan sebagai tanaman uji jati untuk diambil data serta informasinya, sehingga  perlu dilakukan kegiatan pemeliharaan rutin dan evaluasi.

Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan dalah pemupukan, pendangiran, babat tumbuhan bawah, babat ilaran api dan persiapan penjarangan (sensus dan tunjuk tolet) serta menjaga keamanan tanaman uji jati.

Untuk memperoleh manfaat dari tanaman uji jati yang telah dibangun, maka perlu dilakukan pengambilan data pertumbuhan tanaman uji tersebut. Pengambilan data dilakukan dengan cara pengukuran tinggi dan diameter selanjutya dilakukan analisa. Data ini sangat berguna dalam menentukan kebijaksanaan program penelitian selanjutnya.

 

B.Tujuan.

 

 

5.Analisis Sidik Jari Jati Unggul dg Penanda Mikrosatelit

A. Latar Belakang

Tanaman jati (Tectona grandis L.f) merupakan jenis tanaman yang  dibudidayakan khususnya di Pulau Jawa. Tanaman jati ini dalam skala luas dikelola oleh Perum Perhutani dan menjadi sumber utama pendapatan perusahaan. Untuk meningkatkan produktivitas tanaman ini telah dilakukan berbagai upaya untuk merancang program pemuliaan tanaman jati. Rangkaian kegiatan penelitian yang telah dilaksanakan antara lain seleksi pohon plus, pembangunan Kebun Benih Klonal (KBK), pembangunan bank klon, pembangunan uji keturunan baik halfsib maupun fullsib, pembangunan kebun pangkas, dan sebagainya. Pada tahun 2002, uji genetik-lingkungan di 6 lokasi menghasilkan dua klon terbaik yaitu PHT I dan PHT II yang saat ini telah banyak dikembangkan sebagai tanaman produksi secara vegetatif. Pada tahun 2009, kedua klon tersebut juga telah memperoleh sertivikat PVT dari Kementrian Pertanian (Puslitbang Perhutani, 2012). Bibit-bibit jati unggul hasil pemuliaan tersebut saat ini telah dijual secara komersial, namun belum didukung dengan informasi sidik jari pohon-pohon unggul dengan penanda genetik spesifik jati. Oleh karena itu perlu dilakukan pencandraan secara genetik (genotyping) untuk mendapatkan sidik jari tanaman sebagai upaya perlindungan hak milik kekayaan intelektual. Untuk klon-klon unggul baru yang ditemukan, informasi sidik jari tanaman dapat digunakan sebagai data prasyarat untuk mendapatkan sertivikat tanaman.

Bank klon berfungsi untuk menyimpan sifat-sifat genetis pohon plus termasuk untuk menyimpan materi genetik dari gangguan seperti pencurian dan bencana alam. Kebun pangkas berfungsi sebagai bahan pangkasan perbanyakan vegetatif untuk menghasilkan bibit skala operasional. Untuk memastikan kualitas tanaman perlu dilakukan verifikasi untuk memastikan kesesuaian identitas tanaman dengan indukannya.

Pada penelitian ini, analisis genetik dilakukan menggunakan penanda Mikrosatelit dengan primer spesifik jati. Metode ini digunakan karena sifatnya yang kodominan sehingga individu homozigot dan heterozigot dapat dibedakan pada populasi yang bersegregasi. Keuntungan penanda SSR atau mikrosatelit dalam analisis genom yaitu sekuen SSR banyak ditemukan dalam genom eukariot dan umumnya stabil dalam pewarisan sifat (Munarti, 2005). Mikrosatelit mampu menghasilkan lebih banyak alel per lokus dibandingkan isozim. Penanda ini bersifat kodominan, berbasis PCR dan lebih dapat diandalkan dibadingkan penanda RAPD. Oleh karena nukleotida berulang ditemukan pada semua organisme, metode ini dapat menjadi penanda genetik Mendelian untuk mempelajari struktur populasi, pola migrasi dan pemetaan genom (Namkoong and Koshy, 2001).

 

B. Tujuan

Mendapatkan sidik jari genetik tanaman jati unggul dan informasi kesesuaian identitas tanaman di kebun pangkas dan kebun benih klonal.

 

 

 

6.Kajian Hara pada Lahan Tanaman Jati dan Serapan Pupuk

A. Latar Belakang

Untuk mendukung keberhasilan pembangunan hutan maka diupayakan dengan silvikultur intensif yang memadukan beberapa aspek dalam pengelolaannya. Aspek yang sangat penting adalah perpaduan antara kegiatan pemuliaan, manipulasi lingkungan dan pengendalian hama penyakit terpadu.

Perum Perhutani telah menggunakan standar dalam pemupukan tanaman JPP. Pupuk dasar dengan pupuk kandang sebanyak 3 kg per lubang tanam diharapkan mampu mendukung pertumbuhan tanaman Jati. Pupuk kandang dapat memperbaiki unsur hara yang ada dalam tanah dan memberikan efek yang baik bagi sifat fisik tanah seperti aerasi tanah, kepadatan tanah maupun bagi perkembangan mikro organisme tanah.

Sesuai dengan SOP pembuatan tanaman jati JPP, 1 bulan setelah tanam dilakukan pemeliharaan berupa pemberian pupuk anorganik urea sebanyak   50 gram. Selanjutnya pemupukan lanjutan dilakukan di awal tahun (akhir musim penghujan) dan akhir tahun (awal musim penghujan) masing-masing sebanyak 100 gram urea sampai umur 5 tahun. Hasil penelitian Puslitbang tahun 2012 tentang uji coba pemberian pupuk Urea, TSP dan KCl pada tanaman jati umur 2 tahun di KPH Randublatung dan KPH Kendal menunjukkan bahwa dosis pupuk urea 100 gram/pohon memberikan pertumbuhan tinggi dan diameter paling optimal pada tanaman jati umur 2 tahun.

Pada lahan yang subur diduga pemberian pupuk tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Demikian pula pada tanaman umur 4 dan 5 tahun. Demikian juga pada umur di atas 5 tahun belum ada pengkajian pemupukan. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian efektivitas pupuk pada  tanaman jati JPP umur 1-10 tahun.

 

B. Tujuan

 

 

 

7.Kajian Penjarangan pada Pertanaman Jati (Pada Plot Perhutanan Klon, Pola Mr, dan Ps)

A. Latar Belakang

Management regime pertama kali diuji-cobakan di wilayah KPH Madiun tahun 1991 dan KPH Surakarta tahun 1995 pada wilayah-wilayah yang memiliki masalah sosial-ekonomi dan masalah kehutanan.

Penerapan di lapangan dibagi menjadi tiga kategori, yaitu : 1). sangat intensif (MR IV), 2). intensif (MR II dan MR III), dan 3). tidak intensif (MR I dan MR K). Penerapan bentuk pengelolaan program MR dapat berbeda antar KPH yang didasarkan pada karakteristikpermasalahan sosial-ekonomi dan kehutanan yang terjadi di wilayah KPH setempat

Pengelolaan hutan dengan pola MR, pola tanam, pemeliharaan termasuk penjarangan berbeda dengan pola tanam biasa. Sesuai dengan tujuannya, setiap rejim pengelolaan dirancang dengan frekuensi dan intensitas penjarangan yang berbeda-beda.

 

 

B. Tujuan

Tujuan penelitian yaitu mengkaji perlakuan penjarangan terhadap produktivitas tegakan tinggal.

 

 

8.Kajian Trubusan Jati

A. Latar Belakang

Salah satu upaya percepatan reboisasi tanaman jati di Perum Perhutani, permudaan tanaman dengan trubusan. Selain tidak membutuhkan biaya besar bila dibandingkan dengan pembangunan tanaman, pertimbangan lain permudaan trubusan adalah tingkat kerawanan rendah, tenaga terbatas.

Menurut Daniel, Helms dan Baker (1995), pertumbuhan  trubusan akan mempunyai dua kali lipat dibanding pertumbuhan semai umur 20 tahun dan akan sama pertumbuhannya sampai umur 40 tahun. Selanjutnya tanaman dari semai akan lebih tinggi pertumbuhannya di atas 40 tahun. Namun pertumbuhan tersebut tergantung pada jenis dan tempat tumbuhnya.

Kecenderungan pohon dari trubusan memiliki batang yang bengkok, tinggi bebas cabang rendah dan percabangan yang berat terjadi pada jenis jati (Tectona grandis Lf.). Untuk memperbaiki kualitas tanaman trubusan seringkali dilakukan beberapa teknik perlakuan pada tunggak bekas tebangan antara lain dengan pembumbunan dan memotong batang serendah mungkin dengan tanah. Pemotongan batang jati saat penebangan merupakan proses awal pembentukan tunas baru (Coppicing).         

Hasil evaluasi Puslitbang tahun 2011 tentang trubusan jati di KPH Randublatung dan KPH Nganjuk bahwa permudaan jati dengan sistem trubusan secara umum riap volume sangat bervariasi antara 0,81 - 4,44 mᵌ/ha/thn.

Pada tahun 2013 Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah melakukan kegiatan Opslaag Cultur di beberapa KPH dan Puslitbang Perhutani telah membuat plot perlakuan trubusan di KPH Mantingan, Kebonharjo dan Ngawi. Oleh karena itu perlu pengamatan lebih lanjut pada tanaman trubusan untuk mengetahui pertumbuhan  dan perlakuan  silvikultur yang tepat.

 

B. Tujuan

Mengetahui pertumbuhan trubusan jati

Mengetahui efektivitas pemupukan pada trubusan jati

 

 

9.Upaya Mengembalikan Kesuburan Tanah dan Kesehatan Lahan Pertanaman  Jati : Kasus di KPH Padangan

1. Pemanfaatan Tanaman di Bawah Tegakan Jati untuk Konservasi Tanah & Air   

A. Latar Belakang

Pada hutan tanaman jati sering terjadi kegagalan tanaman yang disebabkankesuburan lahan yang semakin menurun. Keadaan tersebut disebabkan sering terjadinya kebakaran pada hutan jati dan erosi tanah yang terus menerus. Kebakaran hutan menyebabkan tanaman pokok pertumbuhannya kurang baik.Selain itu tumbuhan bawah yang dapat berfungsi untuk mengurangi erosi tanah ikut terbakar. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk mengembalikan kesuburan tanah dengan pengelolaan tumbuhan bawah dan penerapan praktek konservasi tanah dan air.

 

B. Tujuan

 

2. Penanganan Penyakit Layu Bakteri Pada Tanaman Jati di Lapangan (Th ke-2)

A.Latar Belakang

   Perhutani mengelola kelas perusahaan (KP) jati lebih dari 1 juta hektar, tersebar di Jawa dan Madura. Kondisi tapak kawasan hutan jati beragam, ada yang produktif dan ada yang tidak produktif. Tidak produktifnya lahan hutan disebabkan beberapa hal: tanah kritis, drainase buruk, lahan penggembalaan, atau karena tanah terkontaminasi oleh patogen yang endemik daerah tersebut.

   Pada beberapa tapak tanaman jati, penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh bakteri patogen Pseudomonas tectonae menjadi faktor kunci penyebab kegagalan tanaman. Serangan penyakit layu bakteri menyebabkan kematian tanaman jati sampai dengan tanaman umur 3 tahun.

   Berdasarkan laporan dan pemeriksaan, kasus serangan penyakit layu bakteri dijumpai antara lain di KPH Pati, KPH Ciamis, KPH Indramayu, KPH Purwakarta, KPH Tasikmalaya, KPH Kendal, KPH Purwodadi, KPH Madiun, dan KPH Jember. Dari kasus serangan penyakit layu bakteri pada lokasi-lokasi di atas, munculnya penyakit ini merujuk pada tipe tanah tertentu, yaitu tanah berwarna kemerahan. Tipe tanah dengan warna tersebut merupakan jenis tanah latosol (oxisol) atau tanah mediteran (alfisol).

   Upaya pengendalian penyakit layu bakteri telah dilakukan Puslitbang di lokasi kebun pangkas dan persemaian JPP KPH Pati. Pengendalian dengan kombinasi pupuk hayati dan bakterisida cukup efektif mengurangi kerusakan tanaman. Dengan besarnya kerusakan tanaman di lapangan, perlu upaya untuk meningkatkan ketahanan tanaman di lapangan agar tidak terserang penyakit layu bakteri.

 

B.Tujuan

          Mengetahui efektivitas multimikrobia (pupuk hayati) dan bakterisida untuk mengurangi serangan penyakit layu bakteri dan meningkatkan ketahanan tanaman jati di lapangan.

 

 

3. Evaluasi Penanganan Mati Pucuk pada Tanaman Jati di Lahan Kritis

A.Latar Belakang

Mati pucuk pada tanaman jati muda akhir-akhir ini banyak dijumpai pada area pertanaman jati, terutama di lahan kritis. Gejala mati pucuk pada lahan kritis terjadi karena stres air pada waktu kemarau yang menyebabkan rusaknya akar-akar rambut karena keringnya rhizosfer. Dengan demikian maka kerusakan tanaman disebabkan faktor abiotik. Kurangnya kandungan bahan organik tanah diduga merupakan faktor penyebab kejadian tersebut. Di lapangan, penyebab gejala mati pucuk seringkali merupakan gabungan dua faktor atau lebih; sebuah faktor dapat menjadi faktor utama (dominan) dan lainnya menjadi faktor pendukung (predisposisi). Untuk penanganan di lapangan, prioritas tindakan yang perlu dilakukan adalah mendapatkan informasi tentang faktor dominan penyebab mati pucuk di lokasi setempat. Hal ini penting untuk untuk mengefisienkan waktu dan biaya yang akan dikeluarkan.

Kajian ini sebagai upaya meminimalkan kerusakan mati pucuk oleh penyebab abiotik, diharapkan dapat memberikan rekomendasi tata waktu dan dosis pemberian bahan organik tambahan yang tepat untuk meminimalkan mati pucuk pada lahan kritis.

 

B. Tujuan

     Untuk mengetahui efektivitas pemberian bahan organik (pupuk kandang dan arang) untuk mengurangi gejala mati pucuk pada tanaman jati di lahan kritis.

 

 

4. Plot Pengelolaan Alang-Alang pada Tanaman Muda (umur lepas kontrak)

A. Latar Belakang

          Perhutani mengelola kelas perusahaan (KP) jati lebih dari 1 juta hektar, tersebar di Jawa dan Madura. Kondisi tapak kawasan hutan jati beragam, ada yang produktif dan ada yang tidak produktif. Tidak produktifnya lahan hutan disebabkan beberapa hal: tanah kritis, drainase buruk, lahan penggembalaan, atau karena tanah terkontaminasi oleh patogen yang endemik daerah tersebut.

          Kritisnya lahan hutan jati disebabkan faktor kompleks, sejak tanaman muda sampai dengan saat proses tebangan dan pasca panen. Aktivitas tumpangsari dan kebakaran adalah dua faktor yang menjadi penyebab utama degradasi lahan hutan. Ketika tanaman muda, pengolahan tanah untuk tumpangsari meningkatkan laju erosi permukaan pada waktu musim hujan. Kebakaran pada waktu kemarau menyebabkan terputusnya proses pengembalian bahan organik dan nutrisi ke lantai hutan sehingga lahan hutan semakin terdegradasi.

          Ketika lahan hutan menjadi kritis, alang-alang (Imperata cylindrica L.) menjadi gulma yang sangat dikeluhkan dalam rehabilitasi dan reboisasi lahan. Invasi alang-alang adalah indikator bahwa lahan mengalami degradasi. Di lahan jati, alang-alang menjadi problem terutama pada lokasi banjar harian dan lokasi tanaman lepas kontrak. Tanaman muda di lokasi alang-alang menyebabkan tanaman pokok tidak dapat tumbuh optimal karena persaingan air, nutrisi dan ruang tumbuh. Ketika kemarau, alang-alang mudah terbakar sehingga merusak tanaman jati muda. Kondisi ini menyebabkan lahan semakin kritis dan tanaman semakin tidak produktif. Selain resiko kebakaran akibat melimpahnya bahan bakar, pertumbuhan tanaman jati di lahan kritis dalam perkembangannya mengalami berbagai kendala. Kasus yang sering muncul adalah gejala mati pucuk akibat faktor abiotik. Terbatasnya lengas tanah akibat rendahnya bahan organik tanah dan peningkatan suhu global menyebabkan perakaran jati yang dangkal rentan mengalami kerusakan dan mengakibatkan mati pucuk. Mati pucuk karena faktor abiotik ini pada jati umumnya dijumpai setelah tanaman jati berumur 3 tahun. Tanaman jati setelah mengalami mati pucuk menjadi stagnan, tanaman tidak tumbuh lebih tinggi.

          Penelitian ini dilakukan dalam rangka mengelola alang-alang dan gulma lainnya serta upaya memperbaiki kesuburan lahan kritis di tegakan jati muda. Diharapkan resiko kebakaran dan kerusakan tanaman seperti mati pucuk oleh penyebab abiotik dapat diminimalkan. Pada akhirnya produktivitas tanaman dan lahan diharapkan dapat meningkat.

 

B. Tujuan

     Untuk mendapatkan teknik pengendalian alang-alang yang tepat pada lahan pertanaman jati muda umur lepas kontrak.

 

 

5. Upaya Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan Kritis

A. Latar Belakang

          Perhutani mengelola kelas perusahaan (KP) jati lebih dari 1 juta hektar, tersebar di Jawa dan Madura. Kondisi tapak kawasan hutan jati beragam, ada yang produktif dan ada yang tidak produktif. Tidak produktifnya lahan hutan disebabkan beberapa hal: tanah kritis, drainase buruk, lahan penggembalaan, atau karena tanah terkontaminasi oleh patogen yang endemik daerah tersebut.

          Kritisnya lahan hutan jati disebabkan faktor kompleks, sejak tanaman muda sampai dengan saat proses tebangan dan pasca panen. Aktivitas tumpangsari dan kebakaran adalah dua faktor yang menjadi penyebab utama degradasi lahan hutan. Ketika tanaman muda, pengolahan tanah untuk tumpangsari meningkatkan laju erosi permukaan pada waktu musim hujan. Kebakaran pada waktu kemarau menyebabkan terputusnya proses pengembalian bahan organik dan nutrisi ke lantai hutan sehingga lahan hutan semakin terdegradasi.

          Ketika lahan hutan menjadi kritis, alang-alang (Imperata cylindrica L.) menjadi gulma yang sangat dikeluhkan dalam rehabilitasi dan reboisasi lahan. Invasi alang-alang adalah indikator bahwa lahan mengalami degradasi. Di lahan jati, alang-alang menjadi problem terutama pada lokasi banjar harian dan lokasi tanaman lepas kontrak. Tanaman muda di lokasi alang-alang menyebabkan tanaman pokok tidak dapat tumbuh optimal karena persaingan air, nutrisi dan ruang tumbuh. Ketika kemarau, alang-alang mudah terbakar sehingga merusak tanaman jati muda. Kondisi ini menyebabkan lahan semakin kritis dan tanaman semakin tidak produktif.

          Pertumbuhan tanaman jati JPP di lahan kritis dalam perkembangannya mengalami berbagai kendala. Kasus yang sering muncul adalah gejala mati pucuk. Mati pucuk pada jati JPP umumnya dijumpai pada tanaman jati mulai umur 3 tahun. Tanaman jati JPP setelah mengalami mati pucuk menjadi stagnan, tanaman tidak tumbuh lebih tinggi. Selain mati pucuk bentuk kerusakan yang lebih parah adalah kematian tanaman.

          Masalah mendasar penyebab rentannya tanaman jati mengalami mati pucuk bahkan kematian pada saat umur 3 tahunan, dipengaruhi 3 faktor: 1) tanah kritis, 2) tipe perakaran, dan 3) peningkatan suhu harian. Kondisi tanah kritis pada lahan jati: lapisan tanah bagian atas berupa lapisan subsoil berwarna terang dan bercampur dengan serpihan batuan induk kapur. Warna terang dan pencampuran dengan serpihan batuan induk mengindikasikan bahwa kadar bahan organik tanah (BOT), kemampuan menyimpan air, dan kandungan hara esensial tersedia rendah. Tipe perakaran jati yang dangkal dan meningkatnya suhu harian menyebabkan pada musim kemarau tanaman jati muda di lahan kritis rentan mengalami kerusakan. Kerusakan ringan berupa mati pucuk, kerusakan parah berupa kematian tanaman. Selain ketiga faktor di atas, kegiatan pemupukan anorganik pada tanaman JPP di lahan kritis berpotensi memperbesar kerentanan tanaman mengalami mati pucuk/kematian jati di lahan kritis. Pemupukan urea mempercepat pertumbuhan tanaman jati muda di musim hujan. Namun demikian pertumbuhan tanaman yang cepat tanpa daya dukung alami lahan yang memadai dapat berefek negatif, tanaman jati JPP muda rentan mengalami mati pucuk bahkan kematian tanaman setelah sebelumnya tanaman tumbuh dengan cepat.

          Berdasarkan faktor-faktor di atas, maka upaya reboisasi rehabilitasi lahan kritis memerlukan pertimbangan yang tepat mulai dari aspek bibit, jenis tanaman sampai perlakuan silvikulturnya. Dari aspek bibit, pertimbangan jenis bibit yang tepat (generatif atau vegetatif) perlu diketahui. Pertimbangan jenis bibit terkait dengan kelengkapan akar tunggang. Akar tunggang terutama berfungsi ketika tanaman muda, untuk penyerapan air dan tegaknya tanaman. Pada situasi tanah kritis secara teoritis jenis bibit generatif memiliki ketahanan lebih baik dibandingkan bibit vegetatif. Hal tersebut karena bibit generatif memiliki akar tunggang alami sedangkan bibit vegetatif, akar tunggang yang terbentuk merupakan akar serabut yang beradaptasi menjadi akar tunggang. Pemilihan jenis tanaman terkait dengan status kelas lahan (mempertahankan jenis jati atau mengganti dengan jenis lain).

 

B. Tujuan

Untuk mendapatkan teknik reboisasi rehabilitasi lahan kritis.

 

 

10.Upaya Pemberantasan Serangan Benalu pada Jati

A. Latar Belakang

Benalu telah menyerang lebih dari 13.000 ha tegakan jati di kawasan Perum Perhutani. Pertumbuhan benalu pada suatu pohon akan optimal bilamana benalu mendapat ruang tumbuh optimal (cahaya penuh). Pohon yang memiliki tajuk lebat dan tidak meranggas akan memiliki risiko kerusakan akibat benalu yang lebih rendah dibandingkan pohon dengan tajuk tipis dan mudah menggugurkan daun.

Pengendalian benalu dapat dilakukan dengan cara fisik mekanik, kimiawi, dan penggunaan jenis resisten. Di Perhutani, cara fisik mekanik dilakukan dengan pemangkasan cabang yang terserang benalu. Namun demikian evaluasi cara ini belum pernah dilakukan sehingga tingkat efektivitasnya belum diketahui. Penggunaan cara kimiawi untuk pengendalian benalu ada dua, yaitu dengan herbisida dan penggunaan hormon pengatur pertumbuhan. Penggunaan herbisida dan hormon pengatur pertumbuhan untuk pengendalian benalu banyak diteliti di luar negeri tahun 1970 - 1980an dan 1990-an. Aplikasi herbisida sistemik untuk jati pernah diteliti tahun 1987 di KPH Balapulang. Pada tahun 2011 dilakukan uji coba injeksi batang menggunakan herbisida sistemik berbahan aktif 2,4 D, mengacu pada dosis yang direkomendasikan pada penelitian tahun 1987. Hasilnya adalah penggunaan herbisida 2,4 D tidak efektif untuk pengendalian jati dan menyebabkan kerusakan batang arah vertikal lubang injeksi. Sedangkan hormon pengatur tumbuh yang direkomendasikan untuk pengendalian benalu adalah etephon (etilen). Etephon bersifat kontak dan sifatnya temporer harus dilakukan pengulangan aplikasi. Aplikasinya dilakukan ketika jati meranggas, etephon disemprotkan ke daun dan batang benalu. Terkait dengan serangan benalu pada pohon jati, maka penggunaan etephon tidak praktis karena benalu terletak pada cabang pohon yang tinggi. Kajian jenis jati yang resisten/lebih toleran terhadap benalu belum pernah dilakukan. Dengan mendapatkan jenis jati yang relatif resisten terhadap benalu, maka pengelolaan benalu pada daerah-daerah rawan akan praktis dan murah.

Perum Perhutani memiliki dua jenis jati berdasarkan tipe tajuk, 1) jati dengan tajuk relatif terbuka dan responsif kemarau (menggugurkan daun) dan 2) jati dengan tajuk rapat dan tidak terlalu responsif terhadap kemarau (relatif tidak menggugurkan daun). Tipe tajuk terbuka dan responsif kemarau diwakili oleh Jati Jawa, di Perhutani produknya adalah JPP KBK. Tipe tajuk rapat dan relatif tidak menggugurkan daun diwakili oleh JPP SP dan Jati Malabar. Dari sekitar 300 pohon plus jati yang dimiliki Perhutani, terdapat tiga pohon plus dengan tajuk hijau dan rapat. Plot pengendalian cara fisik mekanik telah dibuat tahun 2013 pada tanaman KU II dan KU III di KPH Blora. Pengamatan perkembangan benalu antara JPP SP dan JPP KBK telah dimulai sejak tahun 2012 pada tanaman KU I di KPH Ngawi dan KPH Randublatung.

 

B. Tujuan

 

 

 

 

 

 

11.Upaya Penanggulangan Serangan Inger-Inger pada Jati

12.Kajian Pembinaan Masyarakat Sekitar Hutan dalam Pelaksanaan Sistem Pengelolaan Sumber Daya Hutan Bersama Masyarakat

13.Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan Rawan Konflik Kehutanan : Kasus di Ngarengan-KPH Pati