LITBANG JATI

 

1. Pembangunan Plot Tanaman Uji Perolehan Genetik

A. Latar Belakang

Jati merupakan salah satu jenis komoditi perdagangan yang mendatangkan devisa bagi negara. Hingga saat ini permintaan akan kayu jati dari tahun ke tahun selalu meningkat, mengingat jati memiliki daur pemanenan yang panjang (60 s/d 80 tahun), maka perlu penerapan/aplikasi dengan menggunakan materi klon unggul sebagai produk dari pengembangan hasil penelitian pemuliaan pohon jati.

Faktor genetik yaitu penggunakan benih unggul hasil pemuliaan, benih unggul dapat diperoleh melalui pembiakan generatif dan pembiakan vegetatif yaitu kultur jaringan dan stek pucuk. Faktor lingkungan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan pohon yaitu perbaikan tapak seperti penggebrusan, pendangiran, pemupukan. Sedangkan proteksi yaitu upaya mencegah dan meminimalkan gangguan (kebakaran, gulma, hama penyakit dan lain lain). Pengembangan hasil pemuliaan pohon jati diprioritaskan untuk meningkatkan / memperbaiki kualitas tegakan antara lain ; cepat tumbuh (riap tinggi dan keliling), seragam, lurus, dan bebas hama penyakit.

Pembangunan perhutanan klon melaui silvikultur instensif (penggunaan bibit unggul, pengolahan tanah, pemupukan pemeliharaan, penjarangan dan perlindungan) mempunyai peranan yang sangat penting dalam pengembangan jenis JPP. Tanaman jati (Kelas Umur /KU) di dalam KP jati ditargetkan mencapai kurang lebih 600.000 ha, dari luas tersebut 200.000 ha asal jenis perhutanan klon dari stek pucuk (kebun pangkas) JPP, 200.000 ha JPP asal benih KBK dan sisanya dari Areal Produksi Benih (APB).

 

B. Tujuan

1.Membangun plot uji perolehan genetik

2.Membangun plot pertanaman uji klon asal materi

3.Membangun perhutanan klon unggul asal setek pucuk PHT I, PHT II, kandidat PHT III dan kandidat PHT IV

 

 

2. Studi Variasi Genetik Jati Unggul : Jati Asal Fullsib

A. Latar Belakang

Tanaman jati (Tectona grandis L.f) merupakan jenis tanaman yang  dibudidayakan khususnya di Pulau Jawa. Tanaman jati ini dalam skala luas dikelola oleh Perum Perhutani dan menjadi sumber utama pendapatan perusahaan. Untuk meningkatkan produktivitas tanaman ini telah dilakukan berbagai upaya untuk merancang program pemuliaan tanaman jati. Rangkaian kegiatan penelitianyang telah dilaksanakan antara lain seleksi pohon plus, pembangunan Kebun Benih Klonal (KBK), pembangunan bank klon, pembangunan uji keturunan baik halfsib maupun fullsib, pembangunan kebun pangkas, dan sebagainya. Pada tahun 2002, uji genetik-lingkungan di 6 lokasi menghasilkan dua klon terbaik yaitu PHT I dan PHT II yang saat ini telah banyak dikembangkan sebagai tanaman produksi secara vegetatif. Pada tahun 2009, kedua klon tersebut juga telah memperoleh sertivikat PVT dari Kementrian Pertanian (Puslitbang Perhutani, 2012).

Jati unggul lainnya hasil pemuliaan Puslitbangadalah tanaman fullsib. Pada umur 8 tahun terdapat jati fullsib dengan diameter 28 cm. Kemurnian genetik hasil persilanganmerupakan informasi yang penting untuk diketahui. Kontaminasi kemurnian genetik bisa disebabkan oleh persilangan yang berasal dari klon lain atau telah terjadi penyerbukan yang dilakukan oleh serangga. Sidik jari DNA jati fullsib dan identifikasi tetua pembentuknya merupakan hal yang penting dalam perlindungan varietas tanaman, pengujian BUSS (Baru, Unik, Stabil, Seragam), uji kemurnian benih dan perlindungan terhadap pemulia.Analisis genetik jati dilakukan menggunakan penanda mikrosatelit dengan primer spesifik jati. Keuntungan penanda mikrosatelit atau SSR (Sort Sequence Repeat) dalam analisis genom yaitu sekuen SSR banyak ditemukan dalam genom eukariot dan umumnya stabil dalam pewarisan sifat (Munarti, 2005). Mikrosatelit mampu menghasilkan lebih banyak alel per lokus dibandingkan isozim. Penanda ini bersifat kodominan, berbasis PCR dan lebih dapat diandalkan dibadingkan penanda RAPD. Oleh karena nukleotida berulang ditemukan pada semua organisme, metode ini dapat menjadi penanda genetik Mendelian untuk mempelajari struktur populasi, pola migrasi dan pemetaan genom (Namkoong and Koshy, 2001).

 

B. Tujuan

 1. Mendapatkan sidik jari genetik tanaman fullsib.

 2. Mendapatkan informasi kesesuaian genetik individu fullsib dengan tetuannya

 

 

 

3. Upaya Meningkatkan Produktivitas dan Kualitas Tanaman Jati dengan Perlakuan Penjarangan dan Prunning

A. Latar Belakang

Jati Plus Perhutani (JPP) merupakan tanaman jati unggulan produk Perum Perhutani yang diperoleh melalui program pemuliaan pohon. JPP dapat memberikan nilai ekonomis tinggi bagi perusahaan di masa yang akan datang apabila dikelola dengan tepat dan benar. Keunggulan tanaman JPP antara lain adaptif di berbagai tempat tumbuh karena berasal dari seleksi  ± 600 pohon plus pada populasi hutan jati di Indonesia.

Kegiatan silvikultur dan pemeliharaan tanaman yang intensif harus dilakukan secara beriringan untuk mendapatkan tanaman JPP yang berkualitas baik, salah satunya kegiatan pruning dengan tujuan untuk meningkatkan tinggi bebas cabang dan mengurangi mata kayu dari batang utama. Dengan melakukan metode pruning yang tepat, akan didapatkan tegakan bernilai tinggi pada akhir daur. Karena tanaman JPP merupakan tanaman yang mempunyai keunggulan pertumbuhan lebih cepat dibandingkan tanaman jati lainnya maka perlu dilakukan pemeliharaan tanaman antara lain pruning. Dari hal di atas maka perlu dilakukan kajian untuk mengetahui tehnik pruning yang tepat untuk tanaman JPP yang mulai disebarluaskan tahun 2000 sampai dengan sekarang.

 

B. Maksud dan Tujuan

  1. Mengetahui pengaruh pruning terhadap pertumbuhan tanaman jati JPP.

  2. mengkaji perlakuan penjarangan terhadap produktivitas tegakan tinggal.

     

     

 

4. Upaya Penanggulangan Serangan Hama Uret dan Pemetaan Hama Pada Tanaman Jati

A.Latar  Belakang

Tanaman jati merupakan jenis tanaman yang paling luas dibudidayakan di wilayah Perum Perhutani, yaitu sebesar 62,27% (>1,1 juta ha dari 2,6 juta ha). Permintaan akan kayu jati selalu meningkat, sedangkan potensi hutan jati dan produktivitasnya terus menurun.

Upaya pemuliaan tanaman dan silvikultur intensif dengan penggunaan bibit unggul dan pemeliharaan tanaman yang intensif merupakan upaya untuk meningkatkan produktivitas tegakan namun demikian hama, penyakit dan gulma merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas hutan.

Serangan hama uret (jenis Leucopholia rorida, Lepidiota stigma, Holotricha helleri) dan hama penyakit lainnya pada tanaman jati sering terjadi dan menjadi permasalahan penting bagi pelaksana di lapangan. Serangan hama uret merugikan secara ekonomi karena daya makannya yang tinggi sehingga mematikan tanaman dan merupakan hama pentingkarena memakan akar tumbuhan dari bawah permukaan tanah dan memiliki kemampuan jelajah yang tinggi. Pengendalian hama penyakit setelah diketahui terjadinya serangan (kuratif) seringkali belum/tidak dapat dikatakan efektif dan efisien karena serangan sudah mewabah (outbreak) dan memerlukan biaya yang tidak sedikit, untuk itu pada penelitian ini dilakukan upaya pencegahan (preventif).

Bertolak dari masalah tersebut diatas, maka penelitian ”upaya penanggulangan hama uret dan pemetaan sebaran hama penyakit pada tegakan jati” kiranya perlu dilakukan dan harus ditanggulangi serta dicarikan cara pemecahannya.

 

B.Tujuan.

5. Plot Demo Kerjasama Pembuatan Tanaman Di Lokasi Rawan Konflik Sosial

A. Latar Belakang

Konflik antara pengelola hutan (Perum Perhutani) dengan masyarakat sekitar hutan telah lama berlangsung dengan berbagai macam sebab dan akibat yang menyertainya. Pengangguran dan kemiskinan serta keterbatasan kepemilikan lahan pertanian masyarakat sekitar hutan menjadi penyebab utama konflik yang menyebabkan kerusakan hutan dan kegagalan pembangunan tanaman. PHBM merupakan satu model  pendekatan yang ditawarkan Perum Perhutani untuk mengurangi tekanan masyarakat terhadap hutan. Pada kenyataannya, pelaksanaan PHBM di beberapa wilayah rawan konflik hingga saat ini masih dinilai belum menjawab secara keseluruhan permasalahan yang ada.

Hingga saat ini kegagalan tanaman masih banyak terjadi di berbagai lokasi, antara lain di beberapa KPH Pati, Nganjuk, Kediri, dan Blitar sebagai akibat aktivitas penanaman tanaman tumpangsari (penggarapan lahan)yang tidak terkendali. Lahan hutan ditanami dengan tanaman pertanian secara terus-menerus sehingga menyebabkan kegagalan tanaman. Berdasarkan data realisasi pembuatan tanaman jati selama 10 (sepuluh) tahun terakhir menunjukkan bahwa  kegiatan pembuatan tanaman rutin hanya sebesar 10%, sedangkan pembuatan tanaman pembangunan sebesar 90%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar pembuatan tanaman dilakukan karena faktor kegagalan pembuatan tanaman pada tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan pemetaan tipologi tapak dari Pusat Perencanaan SDH (2015) diperoleh informasi bahwa kawasan hutan Perum Perhutani yang termasuk dalam kategori zona adaptif seluas 830.543 hektar yang meliputi : kawasan produksi seluas 539.485 hektar dan kawasan produksi terbatas seluas 291.058 hektar. Pada zona adaftif tersebut,  pembangunan hutan mengalami kegagalan sejak puluhan tahun yang lalu sehingga tegakan hutan tidak pernah mencapai akhir daur.  Mempertimbangkan hal tersebut, perlu adanya perubahan dalam sistem pengelolaannya untuk mengatasi konflik kepentingan antara pengelola dan masyarakat sekitar hutan sebagai penyebab utama kegagalan pembangunan tanaman.  Dengan demikian, maka keberhasilan pembangunan tanaman dapat ditingkatkan dan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan juga meningkat.

 

B. Tujuan

  1. Meningkatkan keberhasilan pembuatan tanaman

  2. Meningkatkan produktivitas lahan

  3. Meningkatkan peran serta masyarakat sekitar hutan dalam pembangunan hutan

  4. Mengurangi  resiko kegagalan pembangunan hutan yang selama ini ditanggung sendiri oleh Perum Perhutani

  5. Meningkatkan kemandirian masyarakat sekitar hutan.

     

     

 

6. Pemeliharaan dan Evaluasi Tanaman Uji Jati

A. Latar Belakang

Jati merupakan komoditi utama yang diusahakan Perum Perhutani sehingga program pemuliaan jati sudah dilakukan sejak lama dengan pemilihan pohon plus, pembangunan uji provenan, uji keturunan, uji klon, bank klon, KBK ( Kebun Benih Klonal) dan KBS (Kebun Benih Semai).

Kebun Percobaan (Tanaman Uji) adalah suatu areal hutan dengan luasan tertentu yang dikelola (perencanaan, penanaman, pemeliharaan dan evaluasi) secara khusus, dengan maksud untuk kegiatan penelitian dan pengembangan dalam rangka membuat kesimpulan program pemuliaan

Secara umum, Kebun Percobaan / Tanaman Uji Jati yang dilakukan pemeliharaan dan evaluasi oleh Tim Peneliti Pemuliaan Pohon Konvensional Jati di Perum Perhutani dapat dikelompokkan menjadi 2 ( dua), yaitu :

  1. Uji Genetika (Uji Species, Uji Provenan, Uji Keturunan, Uji Klon)

  2. Kebun Konservasi (Bank Klon, Kebun Hibridisasi, dll)

Tanaman Uji  Jati yang ada sekarang ini telah dilakukan evaluasi tahun 2007-2008 secara menyeluruh, yang ditinjau dari aspek kelayakan, desain dan pertimbangan kepentingan strategis lainnya. Dari hasil evaluasi tersebut telah diperoleh data mengenai kondisi dan keadaan tanaman uji yang masih dapat dipertahankan sebagai tanaman uji jati untuk diambil data serta informasinya, sehingga  perlu dilakukan kegiatan pemeliharaan rutin dan evaluasi.

Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan dalah pemupukan, pendangiran, babat tumbuhan bawah, babat ilaran api dan persiapan penjarangan (sensus dan tunjuk tolet) serta menjaga keamanan tanaman uji jati.

Untuk memperoleh manfaat dari tanaman uji jati yang telah dibangun, maka perlu dilakukan pengambilan data pertumbuhan tanaman uji tersebut. Pengambilan data dilakukan dengan cara pengukuran tinggi dan diameter selanjutya dilakukan analisa. Data ini sangat berguna dalam menentukan kebijaksanaan program penelitian selanjutnya.

 

B. Tujuan

 

7. Pembangunan dan Pemeliharaan Kebun Pangkas dan Pembuatan Stek Pucuk Unggulan dan Pembangunan Tanaman Uji Klon Pada Lahan Marjinal

A. Latar Belakang

Peningkatan produktivitas hutan dalam rangka memenuhi permintaan pasar kayu jati yang lebih besar dibanding dengan kemampuan penawaran serta untuk memulihkan sumber daya hutan di dalam kawasan, Perum Perhutani mulai menerapkan silvikultur intensif. Upaya yang dilakukan antara lain pengembangan Jati Plus Perhutani (JPP).

Seiring dengan perkembangan program pemuliaan pohon yang dilakukan oleh Perum Perhutani dan dengan ditemukannya klon-klon unggulan, serta dengan terbatasnya luas maupun produksi Kebun Benih Klonal (KBK) jati untuk pemenuhan kebutuhan benih bagi Perum Perhutani dan pihak ketiga, perlu dikembangkan pembuatan bibit asal stek pucuk secara luas.

Pengembangan/pembuatan bibit asal stek pucuk secara luas atau skala besar memerlukan pembangunan atau penyediaan kebun pangkas JPP berikut persemaiannya.

Menurut keputusan Direktur Jendral Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial nomor : 101/Kpts/V/2002 tanggal 16 Desember 2002 tentang Pedoman Sertifikasi Sumber Benih Tanaman Hutan, Kebun Pangkas merupakan sumber benih yang mempunyai klasifikasi (grade) paling tinggi. Menurut SK tersebut pengertian kebun pangkas adalah pertanaman yang dibangun untuk tujuan khusus sebagai penghasil bahan stek. Kebun pangkas dikelola intensif dengan pemangkasan, pemupukan dan sebagainya untuk meningkatkan produksi bahan stek. Kebun pangkas dibangun dari benih atau bahan vegetatif yang dikumpulkan dari pohon plus.

Pengelolaan kebun pangkas dan persemaian stek pucuk JPP harus dilaksanakan sesuai standar yang ditetapkan serta didukung oleh SDM pengelola yang berkompeten agar memberikan manfaat yang maksima.

 

 

B. Tujuan

  1. Memelihara kebun pangkas jati asal full-sib untuk menghasilkan pucuk atau tunas sebagai bahan setek.Membangun plot uji perolehan genetic.

  2. Membangun  uji klon jati asal full-sib di lahan marginal di KPH Padangan seluas 2,0 ha.

 

 

 

8. Respon Tanaman Jati Terhadap Pemupukan

A. Latar Belakang

Untuk mendukung keberhasilan pembangunan hutan maka diupayakan dengan silvikultur intensif yang memadukan beberapa aspek dalam pengelolaannya. Aspek yang sangat penting adalah perpaduan antara kegiatan pemuliaan, manipulasi lingkungan dan pengendalian hama penyakit terpadu.

Perum Perhutani telah menggunakan standar dalam pemupukan tanaman jati JPP. Pupuk dasar dengan pupuk kandang sebanyak 3 kg per lubang tanam diharapkan mampu mendukung pertumbuhan tanaman Jati. Pupuk kandang dapat memperbaiki unsur hara yang ada dalam tanah dan memberikan efek yang baik bagi sifat fisik tanah seperti aerasi tanah, kepadatan tanah maupun bagi perkembangan mikro organisme tanah.

Sesuai dengan SOP pembuatan tanaman jati JPP, 1 bulan setelah tanam dilakukan pemeliharaan berupa pemberian pupuk anorganik (urea) sebanyak50 gram/pohon. Pemupukan lanjutan dilakukan di awal tahun (akhir musim penghujan) dan akhir tahun (awal musim penghujan) masing-masing sebanyak100 gram/pohon urea sampai umur 5 tahun. Hasil penelitian Puslitbang tahun 2012 tentang uji coba pemberian pupuk Urea, TSP dan KCl pada tanaman jati umur2 tahun di KPH Randublatung dan KPH Kendal menunjukkan bahwa dosis pupuk urea 100 gram/pohon memberikan pertumbuhan tinggi dan diameter paling optimal pada tanaman jati umur 2 tahun.

Pada lahan yang subur diduga pemberian pupuk tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Demikian juga pada tanaman jati umur di atas 5 tahun belum ada pengkajian pemupukan. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian efektivitas pupuk pada  tanaman jati JPP umur 1-10 tahun.

 

B. Tujuan

Untuk mengetahui respon pemupukan tanaman jati

 

 

9. Pemeliharaan Demplot Model Pertanaman Jati Dalam Rangka Penanganan Penggembalaan

A. Latar Belakang

Penggembalaan ternak secara liar dan tidak terkendali di lahan hutan Perum Perhutani menjadi salah satu faktor penyebab kegagalan pembangunan tanaman jati muda di lapangan. Aktivitas penggembalaan liar menyebabkan pemadatan tanah sehingga perakaran tanaman tidak dapat berkembang, menjadi kerdil dan tidak produktif. Pada tanaman yang masih kecil, aktivitas ternak dapat menyebabkan kematian karena tanaman terinjak-injak. Sedangkan pada tanaman yang relatif besar/tinggi, kebiasaan ternak menggosok-gosokkan badannya menyebabkan pohon miring atau kulit batang mengelupas sehingga menimbulkan luka terbuka () pada pohon. Oleh sebab itu, Perum Perhutani melarang aktivitas penggembalaan ternak secara liar di dalam kawasan hutan, khususnya pada tegakan muda dilarang.

Upaya rehabilitasi lahan penggembalaan dengan penanaman kembali (reboisasi) seringkali berakhir dengan kegagalan. Berdasarkan permasalahan tersebut, pada tahun 2010 Puslitbang Perhutani membangun demplot tanaman jati pada area penggembalaan di Petak 3035 b RPH Gerdu Sapi, BKPH Kendilan, KPH Cepu seluas 2,5 ha. Kawasan hutan tersebut merupakan lahan yang tidak produktif akibat kegiatan penggembalaan ternak, dan sudah  lebih dari 20 tahun tidak pernah berhasil direhabilitasi. Dengan membangun demplot menggunakan teknik penanaman khusus, tanaman jati dapat tumbuh baik, tidak terganggu oleh ternak meskipun lahan pertanaman masih berfungsi sebagai lahan penggembalaan.

Di kawasan hutan Perum Perhutani terdapat kawasan yang rawan tekanan sosial ekonomi dan tidak produktif cukup luas (lebih dari 200.000 ha). Di lain pihak, saat ini Indonesia kekurangan pasokan daging sapi dan harus mengimport untuk mecukupi kebutuhan. Dengan mengacu pada keberhasilan teknik penanaman jati pada area penggembalaan di Petak 3035 b KPH Cepu tersebut diatas, maka perlu dilakukan pengembangan demplot dalam skala yang lebih operasional di wilayah lain yang memiliki permasalahan yang hampir sama. Dengan demikian, diharapkan produkivitas lahan akan meningkat dengan keberhasilantanaman jati serta membuka peluang pengembangan ternak di dalam kawasan hutan untuk mencukupi kebutuhan daging secara nasional.

 

B. Tujuan

 

 

 

10. Analisis Genetik Individu Produktif Berbuah Tanaman Jati KBK

A. Latar Belakang

Tanaman jati (Tectona grandis L.f) merupakan jenis tanaman yang  dibudidayakan khususnya di Pulau Jawa. Tanaman jati ini dalam skala luas dikelola oleh Perum Perhutani dan menjadi sumber utama pendapatan perusahaan. Untuk meningkatkan produktivitas tanaman ini telah dilakukan berbagai upaya untuk merancang program pemuliaan tanaman jati. Rangkaian kegiatan penelitianyang telah dilaksanakan antara lain seleksi pohon plus, pembangunan Kebun Benih Klonal (KBK), pembangunan bank klon, pembangunan uji keturunan baik halfsib maupun fullsib, pembangunan kebun pangkas, dan sebagainya. Pada tahun 2002, uji genetik-lingkungan di 6 lokasi menghasilkan dua klon terbaik yaitu PHT I dan PHT II yang saat ini telah banyak dikembangkan sebagai tanaman produksi secara vegetatif. Pada tahun 2009, kedua klon tersebut juga telah memperoleh sertivikat PVT dari Kementrian Pertanian (Puslitbang Perhutani, 2012).

KBK sebagai sumber benih jati berisi materi pilihan yang berasal dari pohon-pohon plus hasil eksplorasi. Klon-klon unggul tersebut memiliki kemampuan berbunga dan memproduksi buah yang beragam. Dalam setiap tahunnya terdapat klon-klon tertentu yang selalu berbuah dan beberapa klon lainnya yang tidak berbuah. Produktivitas kebun benih bisa dipengaruhi oleh faktor internal (genetik) dan juga faktor lingkungan seperti hewan penyerbuk, angin, dan juga kecukupan nutrisi. Untuk mengetahui faktor yang memengaruhi produktivitas tanaman jati di KBK maka uji faktor lingkungan dan faktor genetik bisa dilakukan. Untuk faktor genetik maka uji secara molekuler terhadap individu produktif berbuah dilakukan secara molekuler.

Analisis genetik jati dilakukan menggunakan penanda mikrosatelit dengan primer spesifik jati. Keuntungan penanda mikrosatelit atau SSR (Sort Sequence Repeat) dalam analisis genom yaitu sekuen SSR banyak ditemukan dalam genom eukariot dan umumnya stabil dalam pewarisan sifat (Munarti, 2005). Mikrosatelit mampu menghasilkan lebih banyak alel per lokus dibandingkan isozim. Penanda ini bersifat kodominan, berbasis PCR dan lebih dapat diandalkan dibadingkan penanda RAPD. Oleh karena nukleotida berulang ditemukan pada semua organisme, metode ini dapat menjadi penanda genetik Mendelian untuk mempelajari struktur populasi, pola migrasi dan pemetaan genom (Namkoong and Koshy, 2001)

 

 

B. Tujuan