Pemuliaan Pohon

A. PENELITIAN  PEMULIAAN POHON KONVENSIONAL
1. Pemeliharaan dan Evaluasi Tanaman Uji Jati

A. Latar  Belakang
             Kebun Percobaan (Tanaman Uji) adalah suatu areal hutan dengan luasan tertentu yang dikelola (perencanaan, penanaman, pemeliharaan dan evaluasi) secara khusus, dengan maksud untuk kegiatan penelitian dan pengembangan dalam rangka membuat kesimpulan program pemuliaan Secara umum, Kebun

          Percobaan/Tanaman Uji Jati yang dilakukan pemeliharaan oleh Tim Peneliti Pemuliaan Pohon Konvensional Jati di Perum Perhutani dapat dikelompokkan

    menjadi 2 (dua), yaitu :

    a. Uji Genetika (Uji Species, Uji Provenan, Uji Keturunan, Uji Klon)
    b. Kebun Konservasi (Bank Klon, Kebun Hibridisasi, dll)
          Tanaman Uji  Jati yang ada sekarang ini telah dilakukan evaluasi secara menyeluruh yang ditinjau dari aspek kelayakan, desain, maupun pertimbangan    kepentingan strategis lainnya. Dari hasil evaluasi tersebut telah diperoleh data mengenai kondisi dan keadaan tanaman uji yang masih dapat dipertahankan sebagai tanaman uji jati dan dapat diambil data serta informasinya, sehingga  perlu dilakukan kegiatan pemeliharaan rutin maupun evaluasi selanjutnya.

         Kegiatan pemeliharaan antara lainya adalah pemupukan, pendangiran, babat tumbuhan bawah, babat ilaran api dan persiapan penjarangan (sensus dan tunjuk tolet) serta menjaga keamanan tanaman uji jati.

        Untuk memperoleh manfaat dari tanaman uji jati yang telah dibangun, maka perlu dilakukan pengambilan data perkembangan tanaman uji tersebut. Pengambilan data dilakukan dengan cara pengukuran tinggi dan diameter selanjutya dilakukan analisa. Data  ini sangat berguna dalam menentukan kebijaksanaan program penelitian selanjutnya.

B. Tujuan
     Memperoleh data dan informasi dari tanaman uji jati yang telah dibangun, serta  memberikan informasi yang bermanfaat untuk kegiatan penelitian selanjutnya.

 


2. Pembangunan Kebun Pangkasan Uji Klon Full-sib 2006
A. Latar Belakang
            Pertanaman uji full-sib tahun 2006 merupakan tanaman uji yang berasal dari proses perkawinan silang atau penyerbukan tertutup/terkendali. Materi genetik  yang di serbukan silang berasal dari nomer-nomer klon yang ditetapkan sebagai materi genetik yang baik untuk dilakukan pengembangan dan uji lanjutan.

            Adapun cara perbanyakan materi  pertanaman uji full-sib 2006 yang berada di 3 (tiga) lokasi dengan menggunakan biji ataupun secara generafif sehingga perlu untuk di uji faktor genotipnya. Rangkaian pemuliaan pohon untuk mendapatkan materi unggul yang terbaik dapat dilanjutkan dengan melakukan uji klon untuk mengetahuipertumbuhan tanaman jati teebaik berdasarkan parameter yang ditetapkan.

B. Tujuan
          Membangun kebun pangkasan sebagai penyedia meteri genetik untuk uji klon yang dapat diperbanyak menggunakan metode perbanyakan vegetatif  dengan stek pucuk.


3. Evaluasi dan Pemeliharaan Tanaman-Tanaman Uji Pinus  (Pinus Merkusii)
A. Latar  Belakang
           Kebun Percobaan (Tanaman Uji) adalah suatu areal hutan dengan luasan tertentu yang dikelola (perencanaan, penanaman, pemeliharaan dan evaluasi) secara khusus, dengan maksud untuk kegiatan penelitian dan pengembangan dalam rangka membuat kesimpulan program pemuliaan. Tanaman uji dibangun untuk  demplot atau pengujian suatu pertanaman, yang hasilnya dapat digunakan sebagai dasar/ acuan pengambilan kebijakan pengelolaan hutan. Secara umum, Kebun Percobaan/ Tanaman Uji dikelompokkan menjadi 2 ( dua), yaitu :
    a. Uji Genetika (Uji Species, Uji Provenan, Uji Keturunan, Uji Klon)
    b. Kebun Konservasi (Bank Klon, KBS, Kebun Hibridisasi, dll)

           Tanaman Uji  Non Jati yang ada sekarang ini telah dievaluasi secara menyeluruh yang dari aspek kelayakan, desain, maupun pertimbangan kepentingan strategis lainnya. Dari hasil evaluasi tersebut telah diperoleh data mengenai kondisi dan keadaan tanaman uji yang masih dapat dipertahankan sebagai tanaman uji dan dapat diambil data serta informasinya, sehingga  perlu dilakukan kegiatan pemeliharaan rutin maupun evaluasi selanjutnya. Tanaman uji non jati meliputi : pinus, sengon, mahoni, akasia mangium, jabon, kayu putih, eboni, meranti. Kegiatan pemeliharaan diantaranya meliputi  pemupukan, pendangiran, babat tumbuhan bawah, babat ilaran api dan persiapan penjarangan (sensus dan tunjuk tolet) serta menjaga keamanan tanaman uji.
              Untuk memperoleh manfaat dari tanaman uji Non Jati yang telah dibangun, maka perlu dilakukan pengambilan data perkembangan tanaman uji tersebut. Pengambilan data dilakukan dengan cara pengukuran tinggi dan diameter selanjutya dilakukan analisa. Data ini sangat berguna dalam menentukan kebijaksanaan program penelitian selanjutnya.

B.  Perumusan Masalah
           Pengelolaan tanaman uji dimulai dari saat pembangunan, pemeliharaan, pengambilan data,  analisis data dan evaluasi serta pengambilan kesimpulan. Sampai saat ini, Puslitbang memiliki banyak tanaman uji yang lokasinya tersebar di seluruh wilayah Perum Perhutani. Namun demikian, pengelolaan tanaman uji dimaksud belum dilaksanakan sebagaimana mestinya sehingga belum memberikan manfaat yang optimal.


C. Tujuan
     Memperoleh informasi dari berbagai tanaman uji Pinus merkusii meliputi pertumbuhan tanaman (tinggi dan diameter), produktivitas getah, dll.

4.  Evaluasi dan Pemeliharaan Tanaman-Tanaman Uji Sengon (Falcataria moluccana
A. Latar  Belakang

           Kebun Percobaan (Tanaman Uji) adalah suatu areal hutan dengan luasan tertentu yang dikelola (perencanaan, penanaman, pemeliharaan dan evaluasi) secara  khusus, dengan maksud untuk kegiatan penelitian dan pengembangan dalam rangka membuat kesimpulan program pemuliaan. Tanaman uji dibangun untuk demplot atau pengujian suatu pertanaman, yang hasilnya dapat digunakan sebagai dasar/ acuan pengambilan kebijakan pengelolaan hutan. Secara umum, Kebun Percobaan/ Tanaman Uji dikelompokkan menjadi 2 ( dua), yaitu :
     a. Uji Genetika (Uji Species, Uji Provenan, Uji Keturunan, Uji Klon)
     b. Kebun Konservasi (Bank Klon, KBS, Kebun Hibridisasi, dll)
          Tanaman Uji  Non Jati yang ada sekarang ini telah dievaluasi secara menyeluruh yang dari aspek kelayakan, desain, maupun pertimbangan kepentingan strategis lainnya. Dari hasil evaluasi tersebut telah diperoleh data mengenai kondisi dan keadaan tanaman uji yang masih dapat dipertahankan sebagai tanaman uji dan dapat diambil data serta informasinya, sehingga  perlu dilakukan kegiatan pemeliharaan rutin maupun evaluasi selanjutnya. Tanaman uji non jati meliputi : pinus, sengon, mahoni, akasia mangium, jabon, kayu putih, eboni, meranti. Kegiatan pemeliharaan diantaranya meliputi  pemupukan, pendangiran, babat tumbuhan bawah, babat ilaran api dan persiapan penjarangan (sensus dan tunjuk tolet) serta menjaga keamanan tanaman uji.
              Untuk memperoleh manfaat dari tanaman uji Non Jati yang telah dibangun, maka perlu dilakukan pengambilan data perkembangan tanaman uji tersebut. Pengambilan data dilakukan dengan cara pengukuran tinggi dan diameter selanjutya dilakukan analisa. Data ini sangat berguna dalam menentukan kebijaksanaan program penelitian selanjutnya.


B.  Perumusan Masalah
           Pengelolaan tanaman uji dimulai dari saat pembangunan, pemeliharaan, pengambilan data,  analisis data dan evaluasi serta pengambilan kesimpulan. Sampai saat ini, Puslitbang memiliki banyak tanaman uji yang lokasinya tersebar di seluruh wilayah Perum Perhutani. Namun demikian, pengelolaan  tanaman uji dimaksud belum dilaksanakan sebagaimana mestinya sehingga belum memberikan manfaat yang optimal.

 

C. Tujuan
     Memperoleh informasi dari berbagai tanaman uji sengon, meliputi pertumbuhan tanaman (tinggi dan diameter), dll.


5.   Evaluasi dan Pemeliharaan Tanaman Uji Akasia (Acacia Mangium)
A. Latar  Belakang

            Kebun Percobaan (Tanaman Uji) adalah suatu areal hutan dengan luasan tertentu yang dikelola (perencanaan, penanaman, pemeliharaan dan evaluasi) secara khusus, dengan maksud untuk kegiatan penelitian dan pengembangan dalam rangka membuat kesimpulan program pemuliaan. Tanaman uji dibangun untuk  demplot atau pengujian suatu pertanaman, yang hasilnya dapat digunakan sebagai dasar/ acuan pengambilan kebijakan pengelolaan hutan. Secara umum,  Kebun Percobaan/ Tanaman Uji dikelompokkan menjadi 2 ( dua), yaitu :
    a. Uji Genetika (Uji Species, Uji Provenan, Uji Keturunan, Uji Klon)
    b. Kebun Konservasi (Bank Klon, KBS, Kebun Hibridisasi, dll)
            Tanaman Uji  Non Jati yang ada sekarang ini telah dievaluasi secara menyeluruh yang dari aspek kelayakan, desain, maupun pertimbangan kepentingan strategis lainnya. Dari hasil evaluasi tersebut telah diperoleh data mengenai kondisi dan keadaan tanaman uji yang masih dapat dipertahankan sebagai tanaman  uji dan dapat diambil data serta informasinya, sehingga  perlu dilakukan kegiatan pemeliharaan rutin maupun evaluasi selanjutnya. Tanaman uji non jati meliputi : pinus, sengon, mahoni, akasia mangium, jabon, kayu putih, eboni, meranti. Kegiatan pemeliharaan diantaranya meliputi  pemupukan, pendangiran, babat tumbuhan bawah, babat ilaran api dan persiapan penjarangan (sensus dan tunjuk tolet) serta menjaga keamanan tanaman uji.
            Untuk memperoleh manfaat dari tanaman uji Non Jati yang telah dibangun, maka perlu dilakukan pengambilan data perkembangan tanaman uji tersebut. Pengambilan data dilakukan dengan cara pengukuran tinggi dan diameter selanjutya dilakukan analisa. Data ini sangat berguna dalam menentukan kebijaksanaan program penelitian selanjutnya.

B.  Perumusan Masalah
            Pengelolaan tanaman uji dimulai dari saat pembangunan, pemeliharaan, pengambilan data,  analisis data dan evaluasi serta pengambilan kesimpulan. Sampai saat ini, Puslitbang memiliki banyak tanaman uji yang lokasinya tersebar di seluruh wilayah Perum Perhutani. Namun demikian, pengelolaan tanaman uji dimaksud belum dilaksanakan sebagaimana mestinya sehingga belum memberikan manfaat yang optimal.

C. Tujuan
     Memperoleh informasi dari tanaman uji Acacia magium, meliputi pertumbuhan tanaman (tinggi dan diameter), dll.


6.   Pemuliaan  Pinus Merkusii (Jungh. Et De Vrise) : Perbanyakan Vegetatif Pinus Merkusii  Kandidat Bocor Getah (Lanjutan)
A. Latar Belakang
            Pinus merkusii sebagai pohon yang menghasilkan getah adalah salah satu hasil hutan bukan kayu yang telah diusahakan oleh Perum Perhutani. Pinus merkusii untuk program pengembangan hutan memberikan harapan yang besar dimasa depan karena pinus memiliki kelebihan dibandingkan dengan tanaman-tanaman pohon jenis lain yaitu merupakan jenis tanaman pioneer, sehingga tidak memerlukan syarat hidup yang spesifik, memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi dan memiliki banyak kegunaan (Taryono, 2005).

            Pinus merkusii  masih merupakan tanaman utama penhasil getah dan menjadi penopang pendapatan perusahaan kedua setelah jati. Namun demikian produktivitas getah tanaman pinus dilapangan terus mengalami penurunan. Penyusunan re-desain pengelolaan SDH mencoba menata kembali penanaman pinus dengan target utama getah dengan menggunakan bibit unggul bocor getah ( SK Direksi No. 289/141/Can/Dir Tnggal 24 September 2010).
          Pohon unggul hasil pemuliaan membutuhkan waktu cukup lama, sementara kebutukan akan bibit dari pohon-pohon unggul sudah sangat mendesak harus didapatkan. Salah satu cara untuk menjawab tantangan kebutuhan bibit unggul adalah penggunaan bibit dari hasil pemuliaan pohon, salah satunya melalui perbanyakan secara vegetatif. Teknik perbanyakan  vegetatif ini sangat bermanfaat dalam upaya perbanyakan tanaman karena tanaman baru yang dihasilkan mempunyai sifat genetik yang sama seperti induknya. Penyediaan materi untuk stek pucuk dapat dicukupi dari Kebun benih klonal. Namun demikian, sampai saat ini belum dimiliki oleh Perum Perhutani. Untuk mewujudkan hal tersebut, sebagai langkah awal  diperlukan penguasaan teknik pembuatan bibit secara vegetatif dan uji coba perbanyakan skala produksi.
               Pembiakan vegetatif terbagi menjadi dua cara, yaitu pembiakan vegetatif invitro dan pembiakan vegetatif invivo. Pembiakan vegetatif invitro disebut juga pembiakan mikro atau kultur jaringan. Pembiakan vegetatif seperti ini membutuhkan biaya tinggi dan sumber daya manusia khusus yang menguasai teknik tersebut. Sedangkan pembiakan vegetatif secara invivo atau makro tidak membutuhkan biaya besar dan teknologi yang canggih. Pembiakan vegetatif makro seperti stek, sambungan dan cangkok mudah dipelajari, cara ini bisa diterapkan dimana saja asalkan disiplin pemeliharaannya dan memenuhi kaidah pengembangbiakan vegetatif makro secara umum.

B.  Perumusan Masalah
      Kebutuhan bibit Pinus merkusii bocor getah sangat diperlukan untuk pembangunan dan pengembangan hutan tanaman pinus di Perum Perhutani. Perbanyakan tanaman dengan pembiakan vegetatif merupakan salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan bibit bocor getah, karena tanaman baru yang dihasilkan akan sama seperti tanaman induknya. Hingga saat ini belum ditemukan teknik perbanyakan P. Merkusii secara vegetatif untuk memenuhi kebutuhan bibit tersebut.

C. Tujuan
    1. Memperoleh teknik perbanyakan Pinus merkusii secara vegetatif
    2. Mengembangkan perbanyakan vegetatif Pinus merkusii

7. Pemuliaan  Pinus Merkusii (Jungh. et de vrise) : Perbanyakan Vegetatif Pinus merkusii  Kandidat BocorGetah (Lanjutan)

A. Latar Belakang

Pinus merkusii sebagai pohon yang menghasilkan getah adalah salah satu hasil hutan bukan kayu yang telah diusahakan oleh Perum Perhutani. Pinus merkusiiuntuk program pengembangan hutan memberikan harapan yang besar dimasa depan karena pinus memiliki kelebihan dibandingkan dengan tanaman-tanaman pohon jenis lain yaitu merupakan jenis tanaman pioneer, sehingga tidak memerlukan syarat hidup yang spesifik, memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi dan memiliki banyak kegunaan (Taryono, 2005).

Pembiakan vegetatif terbagi menjadi dua cara, yaitu pembiakan vegetatif invitro dan pembiakan vegetatif invivo. Pembiakan vegetatif invitro disebut juga pembiakan mikro atau kultur jaringan. Pembiakan vegetatif seperti ini membutuhkan biaya tinggi dan sumber daya manusia khusus yang menguasai teknik tersebut. Sedangkan pembiakan vegetatif secara invivo atau makro tidak membutuhkan biaya besar dan teknologi yang canggih. Pembiakan vegetatif makro seperti stek, sambungan dan cangkok mudah dipelajari, cara ini bisa diterapkan dimana saja asalkan disiplin pemeliharaannya dan memenuhi kaidah pengembangbiakan vegetatif makro secara umum.

 

  1.    Perumusan Masalah

Kebutuhan bibit Pinus merkusii bocor getah sangat diperlukan untuk pembangunan dan pengembangan hutan tanaman pinus di Perum Perhutani. Perbanyakan tanaman dengan pembiakan vegetatif merupakan salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan bibit bocor getah, karena tanaman baru yang dihasilkan akan sama seperti tanaman induknya. Hingga saat ini belum ditemukan teknik perbanyakan P. Merkusii secara vegetatif untuk memenuhi kebutuhan bibit tersebut.

 

B. Tujuan

 1. Memperoleh teknik perbanyakan Pinus merkusii secara vegetatif

 2. Mengembangkan perbanyakan vegetatif Pinus merkusii

 

8.  Pembangunan Uji Keturunan Pinus Bocor Getah

A. Latar Belakang

Program pemuliaan pohon Pinus merkusii (Jungh. et de vriese) di Perum Perhutani telah dimulai sejak Tahun 1978 dengan pemilihan pohon plus dan dilanjutkan dengan pembangunan pertanaman uji keturunan di 3 (tiga) tempat, yaitu : Baturraden (KPH Banyumas Timur), Sempolan (KPH Jember) dan Cijambu (KPH Sumedang).  Pertanaman uji keturunan tersebut saat ini telah dikonversi menjadi Kebun Benih Semai Uji Keturunan (KBS atau SSO) dan dimanfaatkan sebagai penghasil benih bermutu.

Perkembangan komoditas getah pinus (gondorukem dan terpentin serta produk turunannya) yang ditandai dengan pesatnya peningkatan harga serta permintaan produk, telah terjadi pergeseran orientasi dalam bisnis dan pengusahan hutan pinus di Perum Perhutani, yaitu ke arah produksi getah.

Program pemuliaan untuk peningkatan produksi getah Pinus merkusii  (bocor getah) telah dimulai sejak tahun 2002 bekerjasama dengan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Program pemuliaan ini dimulai dengan kegiatan seleksi pohon induk Pinus merkusii yang memiliki produktivitas getah tinggi (bocor getah) di seluruh wilayah Perum Perhutani (Unit I, Unit II, Unit III, KBS Sempolan, KBS Baturraden dan KBS Cijambu) dan di Luar Jawa (Sulawesi). Dari kegiatan seleksi tersebut hingga tahun 2009 diperoleh pohon plus sebanyak 1085 pohon, dengan kisaran produksi getah sebesar 50 gr – 327 gr/ph/3 hr.

Kegiatan pengunduhan benih pohon plus pinus bocor getah telah dilakukan di Unit I Jawa Tengah, Unit II Jawa Timur serta di KBS Baturraden, KBS Sempolan dan KBS Cijambu. Dari hasil pengunduhan tersebut selanjutnya dilakukan pembangunan Uji Keturunan Pinus bocor getah

Pembangunan tanaman uji keturunan merupakan salah satu langkah nyata untuk meningkatkan kualitas hutan pinus (getah). Uji keturunan yang dibangun dari pengunduhan pohon plus diharapkan memiliki genetik gen yang semakin meningkat, sehingga pada saatnya dapat dikonversi menjadi kebun benih semai. Materi genetik juga merupakan aset yang sangat berharga ke depan untuk program pemuliaan lanjutan.

 

B. Perumusan Masalah

Pembangunan kebun benih melalui konversi uji keturunan belum seluruhnya dapat diselesaikan, khususnya asal pohon plus Pinus merkusii kandidat bocor getah Unit III Jawa Barat dan Banten. Agar materi tersebut tidak hilang, perlu segera dilakukan pengunduhan dan pembangunan uji keturunan.

 

C. Tujuan

1. Mengetahui variasi genetik antar provenans

2. Memperoleh materi genetik Pinus KBG melalui uji keturunan

3. Memperoleh materi pemuliaan berikutnya


B. PENELITIAN  PEMULIAAN POHON BIOTEKNOLOGI
1.  Perbanyakan Kultur Jaringan Jati Hasil Persilangan Full Sib

A. Latar Belakang

Keberhasilan perbanyakan kultur jaringan dipengaruhi oleh tingkat  hidup kultur dan   tingkat multiplikasi.

Perbanyakan  kultur jaringan jati hasil persilangan terkendali (Fullsib) yang telah dilakukan pada tahun 2012 telah mencapai tahap multiplikasi III dan IV. Sampai dengan tahap multiplikasi III kondisi kultur  karakternya masih terpengaruh kondisi   lapangan  sebelumnya.  Kondisi ini  merupakan masa penyesuaian  kondisi lapangan ke dalam kondisi in-vitro. 

Pada tahap multiplikasi selanjutnya kondisi kultur sudah bisa menyesuaian lingkungan in vitro dan  tahap multiplikasi (perbanyakan) baru dimulai.

Keterbatasan waktu yang dimiliki pada tahun 2012 mengharuskan rencana perbanyakan perlu dilanjutkan pada tahun 2013 untuk seedlot-seedlot yang masih  tumbuh.  Untuk seedlot yang  materinya  sedikit perlu peningkatan jumlah multiplikasi  dalam rangka meningkatkan jumlah kultur menjadi bibit.

 

B. Tujuan

Meningkatkan jumlah multiplikasi dalam rangka mendapatkan bibit jati hasil persilangan melalui kultur jaringan.

 

       

 

2. Poliploidi Tanaman Jati : Uji Pertanaman Jati Tetraploid dan Penggandaan Kromosom Melalui Kultur Anter    

A. Latar Belakang

Penggandaan kromosom merupakan bagian strategi pemuliaan pohon untuk menyediakan materi tanaman yang siap disilangkan di lapangan sehingga diperoleh tanaman yang diinginkan seperti tanaman jati triploid. Melalui penggandaan jumlah kromosom,  tanaman yang dihasilkan biasanya lebih besar, subur, dan tumbuh lebih cepat (Stoskopf et al., 1993). Kelebihan dari tanaman yang jumlah kromosomnya digandakan ini dikenal sebagai “gigas features” yang untuk tanaman pertanian khususnya tanaman pangan tidak dikehendaki. Dari beberapa laporan juga diberitakan bahwa dengan penggandaan jumlah kromosom, maka sifat tanaman dapat berubah menjadi steril (Guzhov, 1989).

Produk yang sudah dihasilkan di Lab Biologi Seluler Puslitbang Perhutani yaitu tanaman jati tetraploid, haploid dan homozigot skala laboratorium yang perlu diperbanyak, dievaluasi dan diuji di lapangan sebagai bahan kajian untuk penelitian selanjutnya.

 

B. Tujuan

1. Mengetahui morfologi dan evaluasi morfologi, pertumbuhan dan kestabilan kromosom tanaman Jati tetraploid (4n) di lapangan

2. Menghasilkan bibit jati tetraploid melalui penggandaan kromosom dengan metode kultur anter (embriogenesis)

 

3.Sistem Perkawinan Induk Pinus Kandidat Bocor Getah di KBS Jember dan Keragaman Genetik Keturunan (F1) dengan Penanda Mikrosatelit

A. Latar belakang

Pinus termasuk jenis pohon serbaguna yang terus menerus dikembangkan dan diperluas penanamannya pada masa mendatang untuk produksi getah dan konservasi lahan. Hampir semua bagian pohon dapat dimanfaatkan, antara lain batangnya dapat diolah untuk kayu pertukangan, bahan konstruksi dan pelapis bangunan, pulp, korek api dan kertas serat panjang, kulit batangnya untuk media tanam anggrek dan bahan bakar, serta abunya untuk bahan campuran pupuk karena mengandung kalium yang tinggi. Selain itu, getahnya dapat diproses menjadi gondorukem dan terpentin yang bermanfaat untuk berbagai macam industri. Pinus merkusii sebagai pohon yang menghasilkan getah merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu yang telah diusahakan oleh Perum Perhutani. Oleh karena potensinya yang besar, pengembangan untuk perbaikan produksi terus dikembangkan termasuk melalui program pemuliaan tanaman pinus bergetah banyak atau diistilahkan sebagai “pinus bocor getah”.

Program pemuliaan pohon ditujukan untuk menghasilkan benih unggul dalam jumlah yang cukup sebagai materi pembuatan tanaman secara operasional (Mashudi, 2009). Program pemuliaan tanaman melibatkan penerapan prinsip-prinsip genetika hutan dan silvikultur yang baik untuk mengembangkan hutan dengan hasil yang tinggi, sehat dan lestari. Hasil dari program pemuliaan pohon secara global adalah peningkatan hasil dan nilai pertanaman untuk memenuhi meningkatnya permintaan akan produk-produk hutan, sekaligus mengurangi kebutuhan untuk memenuhi permintaan tersebut dari hutan alam. Setiap program pemuliaan tanaman bertujuan untuk mengembangkan varietas yang telah dimuliakan seefisien mungkin dengan memaksimalkan perolehan genetik per satuan waktu dengan biaya serendah mungkin. Pemuliaan pohon merupakan komponen integral yang melibatkan siklus berulang atara kegiatan seleksi, persilangan dan pengujian genetik (White et al., 2007).

Program pemuliaan Pinus merkusii di Perum Perhutani telah dimulai sejak tahun 1976. Seleksi pohon plus dilakukan berdasarkan karakter pertumbuhannya, seperti tinggi dan diameter, kelurusan batang, percabangan, serta kesehatan tanaman. Sebanyak 1.000 pohon plus telah dipilih dan ditanam dalam tahun 1978-1983 di tiga lokasi yaitu di Sempolan, Baturaden dan Cijambu. Pertanaman uji keturunan F-1 tersebut telah dikonversi menjadi Kebun Benih Semai Uji Keturunan (KBS)  atau Seed Seedling Orchard (SSO) dan menjadi sumber benih hasil pemuliaan pohon. Sejak tahun 2002 Puslitbang Perhutani bekerjasama dengan Fakultas Kehutanan UGM mulai melaksanakan Program Pemuliaan Pinus merkusii untuk peningkatan produksi getah (Puslitbang Perhutani, 2012).

Seleksi yang dilaksanakan di KBS Sempolan Jember pada tahun 2002 menghasilkan 90 pohon kandidat bocor getah dengan produksi antara 48,2 – 128,0 (gr/ph/3 hr). Pohon Pinus Bocor Getah yang telah dipilih selanjutnya diambil benihnya untuk materi tanaman uji keturunan. Pada tahun 2005, Pertanaman Uji Keturunan dibangun di tiga lokasi yaitu di KPH Banyuwangi Barat, KPH Pekalongan Timur dan KPH Sukabumi. Tanaman uji keturunan ini akan dikonversi menjadi Kebun Benih Semai (KBS), setelah melalui beberapa tahap evaluasi dan penjarangan seleksi (roguing) (Puslitbang Perhutani, 2012).

Pada spesies konifer, depresi inbreeding terekspresi dengan penurunan daya survival dan pertumbuhan tanaman. Di KBS Jember nilai koefisien inbreeding yang tinggi dan laju outcrossing yang sangat rendah kemungkinan disebabkan karena posisi penanaman famili dalam kebun benih yang memungkinkan pesilangan antara pohon-pohon dalam satu famili  (Suwarni, 1999). Pertanaman Uji Keturunan (F1) Glenmore merupakan hasil anakan dari pohon-pohon kandidat bocor getah di KBS Jember dengan laju outcrossing yang rendah tersebut. Oleh karena banyaknya penelitian yang menunjukkan akibat buruk depresi inbreeding pada tanaman pinus, penting untuk mengetahui apakah pohon-pohon di Pertanaman Uji Keturunan (F1) merupakan tanaman outbred atau inbred. Selain itu, pada pertanaman ini akan dilakukan penjarangan seleksi untuk dikonversi menjadi kebun benih. Jika nantinya benih yang dihasilkan tidak dapat tumbuh atau mengalami penurunan produktivitas akibat depresi inbreeding, maka tujuan pemuliaan pohon tidak dapat tercapai. Oleh karena itu pada penelitian ini akan dilakukan pengujian untuk mengetahui sistem perkawinan (mating system) pohon kandidat bocor getah sebagai indukan dan status anakan di Pertanaman Uji Keturunan (F1) Glenmore.

Spesies dengan sistem perkawinan yang berbeda (aseksual vs seksual, inbreeding vs outbreeding, dll) memerlukan pengelolaan yang berbeda, dan sangat penting untuk membedakan mereka. Hubungan antar indukan penting dalam mengelola populasi pemuliaan sehingga hilangnya keragaman genetik dan inbreeding dapat diminimalkan. Analisis genetik dapat memberikan informasi penting tentang sistem perkawinan, silsilah dan hubungan antar tetua tersebut (Frankham et al., 2004). Marka molekuler atau sidik jari DNA memiliki beberapa keunggulan utama antara lain (1) keakuratan yang tinggi dan tidak dipengaruhi oleh lingkungan yang mempengaruhi ekspresi gen tersebut, (2) dapat diuji pada semua tingkat perkembangan tanaman, dan (3) seleksi pada tingkat genotipe ini dapat mempercepat proses seleksi dan hemat pada pengujian selanjutnya di lapangan (Boer, 2007).

Dampak utama pada program pemuliaan genetik adalah berkurangnya kualitas dan kuantitas hasil hutan yang memanfaatkan materi yang berasal dari sumber daya genetik yang dikelola (Zheng and Ennos, 1997). Keragaman genetik menempati posisi penting dalam program pemuliaan karena optimalisasi dan maksimalisasi sifat-sifat tetentu akan dapat dicapai manakala ada cukup peluang untuk melakukan seleksi gen untuk sifat yang diinginkan. Semakin tinggi tingkat keragaman genetik populasi tanaman, akan semakin cepat proses keberhasilan pemuliaan tanaman tersebut (Munarti, 2005; Mashudi, 2009). Oleh karena itu pada penelitian ini juga akan dilakukan analisis keragaman genetik anakan hasil uji keturunan untuk mengetahui perubahannya akibat kegiatan seleksi.

Analisis genetik dilakukan menggunakan penanda Mikrosatelit karena sifatnya yang kodominan sehingga individu homozigot dan heterozigot dapat dibedakan pada populasi yang bersegregasi. Keuntungan penanda SSR atau mikrosatelit dalam analisis genom yaitu sekuen SSR banyak ditemukan dalam genom eukariot dan umumnya stabil dalam pewarisan sifat (Munarti, 2005). Mikrosatelit mampu menghasilkan lebih banyak alel per lokus dibandingkan isozim. Penanda ini bersifat kodominan, berbasis PCR dan lebih dapat diandalkan dibadingkan penanda RAPD. Oleh karena nukleotida berulang ditemukan pada semua organisme, metode ini dapat menjadi penanda genetik Mendelian untuk mempelajari struktur populasi, pola migrasi dan pemetaan genom (Namkoong and Koshy, 2001).

 

B.  Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah:

1. Mengetahui sistem perkawinan indukan pinus kandidat bocor getah di KBS Sempolan Jember

2. Mengetahui keragaman genetik anakan hasil uji keturunan (F1) dari indukan pohon pinus kandidat bocor getah.